Jumat, 1 Juli 2022

Legitnya Kue Kekuasaan

Alfiah, S.Si

Oleh : Alfiah, S.Si

Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 masih cukup lama. Namun aksi dukung mendukung capres sudah menggema di mana-mana. Bukan sebatas dukungan, bahkan dalam bentuk deklarasi yang membuktikan keseriusan terhadap capres pilihan agar memenangi kontestasi. Euporia deklarasi capres seolah melupakan bahwa setiap menjelang Pemilu rakyat ditaburi janji-janji, setelah capres berkuasa rakyat ditinggalkan demi kepuasan korporatokrasi. Demikianlah sejatinya demokrasi, hanya menjadi jalan mulus bagi berkuasanya kapitalis.

Lihat saja bagaimana semangatnya sebagian elemen masyarakat mendeklarasikan capres pilihannya. Di Brebes, Jawa Tengah Sekelompok massa dari berbagai elemen mendeklarasikan dukungan kepada Menteri BUMN, Erick Thohir maju Pilpres 2024 sebagai calon presiden (capres). Deklarasi dukungan ini berasal dari buruh hingga pecinta olahraga. Kelompok masyarakat yang menamakan dirinya sebagai relawan Jaringan Komunitas Erick Thohir (Jaket) Presiden 2024 ini mendeklarasikan dukungan di Desa Bangsri, Kecamatan Bulakamba, Kabupaten Brebes siang ini. Deklarasi ini dipimpin oleh Faturrohman, Ketua Koordinator Wilayah Jaket Presiden 2024 Jawa Tengah. (detik.com, 12 Juni 2022)

Kelompok masyarakat yang menamakan diri Majelis Sang Presiden menyelenggarakan “Deklarasi Anies Baswedan sebagai Presiden Republik Indonesia Periode 2024-2029”. Acara digelar di Hotel Bidakara Jakarta, Rabu, 7 Juni 2022. Dari pantauan Tempo, ratusan orang tampak sudah berkumpul di lokasi untuk mengikuti deklarasi ini. Spanduk besar dengan foto Anies Baswedan juga sudah dipasang dengan tagline “Sang Presiden Kami.” (tempo co.id, 12 Juni 2022)

Sementara di Cilegon, Banten Apel akbar sebagai tanda dukungan kepada Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo menjadi Presiden 2024 berlangsung pada Minggu (5/6/2022). Relawan yang tergabung dalam Sahabat Ganjar pun bangga.

Apel Akbar ini dipelopori oleh DPW Sahabat Ganjar Banten. Acara diawali long march yang diikuti lebih dari 1.000 orang dan diiringi yel-yel Sahabat Ganjar. Seluruh lapisan masyarakat di Kota Cilegon berpartisipasi menyemarakkan kegiatan Apel Akbar Sahabat Ganjar ini. (sindonews.com, 6 Juni 2022)

Adapun, Sekjen Partai Gerindra Ahmad Muzani menghadiri deklarasi dukungan DPC Gerindra Kota Metro, Lampung, kepada Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto sebagai calon presiden 2024. Deklarasi ini turut dihadiri para petani, pegiat UMKM, serta masyarakat sekitar.

Di sisi lain, masih banyak yang menghendaki Jokowi dari PDIP menjadi presiden tiga periode. Meski banyak ditentang berbagai kalangan, Menko Luhut dan sejumlah pihak sempat bermanuver untuk memuluskan hasrat Jokowi tiga periode ini.

Demikianlah begitu menggebunya para elit-elit politik bermanuver demi memuluskan pilihannya. Para capres pun berlomba-lomba mendekati para tokoh agama meminta kerestuannya. Maka tak aneh jika Pemilu kian dekat, para pejabat mendadak taat. Shalawatan, berpakaian syat’i dan berpeci pun dilakoni demi menggaet simpati pemilih. Mereka seolah lupa bahwa menjadi pemimpin negara bukan perkara remeh, karena pertanggungjawabannya tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat.

Sesungguhnya kekuasaan adalah amanah. Allah SWT berfirman:

إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُكُمْ أَنْ تُؤَدُّوا اْلأَمَانَاتِ إِلَى أَهْلِهَا وَإِذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّاسِ أَنْ تَحْكُمُوا بِالْعَدْلِ

“Sungguh Allah menyuruh kalian memberikan amanah kepada orang yang berhak menerimanya, juga (menyuruh kalian) jika menetapkan hukum di antara manusia agar kalian berlaku adil” (TQS an-Nisa’ [4]: 58).

Imam Ibnu Katsir menjelaskan, “Pada dasarnya, amanah adalah taklif (syariah Islam) yang harus dijalankan dengan sepenuh hati, dengan cara melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya. Jika ia melaksanakan taklif tersebut maka ia akan mendapatkan pahala di sisi Allah. Sebaliknya, jika ia melanggar taklif tersebut maka ia akan memperoleh siksa.” (Ibnu Katsir, Tafsîr Ibnu Katsîr, III/522).

Terkait amanah kekuasaan, Imam ath-Thabari, dalam Tafsîr ath-Thabarî, menukil perkataan Ali bin Abi Thalib ra., “Kewajiban penguasa adalah berhukum dengan hukum yang telah Allah turunkan dan menunaikan amanah…”

Banyak orang berambisi terhadap kekuasaan. Apalagi dalam sistem sekuler yang bersifat materialistik seperti saat ini. Padahal, terkait ambisi terhadap kekuasaan, jauh-jauh hari Rasulullah saw. telah memperingatkan umatnya agar hati-hati terhadap akibatnya:

إِنَّكُمْ سَتَحْرِصُونَ عَلَى الإِمَارَةِ وَسَتَصِيرُ نَدَامَةً وَحَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Sungguh kalian akan berambisi terhadap kepemimpinan (kekuasaan), sementara kepemimpinan (kekuasaan) itu akan menjadi penyesalan dan kerugian pada Hari Kiamat kelak “ (HR al-Bukhari, an-Nasa’i dan Ahmad).

Karena itulah Rasul saw. memberikan contoh dengan tidak memberikan kekuasaan atau jabatan kepada orang yang meminta kekuasaan atau jabatan tersebut. Beliau pernah bersabda:

إِنَّا وَاللَّهِ لاَ نُوَلِّى عَلَى هَذَا الْعَمَلِ أَحَدًا سَأَلَهُ وَلاَ أَحَدًا حَرَصَ عَلَيْهِ

“Kami, demi Allah, tidak akan mengangkat atas tugas ini seorang pun yang memintanya dan yang berambisi terhadapnya” (HR Muslim).

Menjadi pemimpin yang amanah tidaklah mudah. Kita saksikan saat ini para pemimpin justru menampakkan pengkhianatannya terhadap rakyat. Penguasa khianat diancam oleh Rasulullah saw., antara lain melalui sabdanya:

مَا مِنْ عَبْدٍ يَسْتَرْعِيهِ اللهُ رَعِيَّةً، يَمُوتُ يَوْمَ يَمُوتُ وَهُوَ غَاشٌّ لِرَعِيَّتِهِ، إِلَّا حَرَّمَ اللهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ

“Tidaklah seorang hamba—yang Allah beri wewenang untuk mengatur rakyat—mati pada hari dia mati, sementara dia dalam kondisi menipu rakyatnya, melainkan Allah mengharamkan surga bagi dirinya” (HR al-Bukhari).

Rasulullah saw. pun mendoakan keburukan terhadap para penguasa khianat atau pemimpin yang tidak amanah, yang menyusahkan rakyatnya:

اللَّهُمَّ، مَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَشَقَّ عَلَيْهِمْ، فَاشْقُقْ عَلَيْهِ، وَمَنْ وَلِيَ مِنْ أَمْرِ أُمَّتِي شَيْئًا فَرَفَقَ بِهِمْ، فَارْفُقْ بِهِ

“Ya Allah, siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lantas dia membuat mereka susah, maka susahkanlah dia. Siapa saja yang mengurusi urusan umatku, lantas dia mengasihi mereka, maka kasihilah dia” (HR Muslim).

Dari dalil-dalil di atas amat jelas bahwa kekuasaan adalah amanah. Legitnya kue kekuasaan tidaklah seberapa jika dibandingkan besarnya siksaan di akhirat kelak jika tidak amanah. WalLaahu a’lam bi ash-shawwaab.***

 

Penulis pegiat literasi Islam

Tinggalkan Balasan