Kamis, 22 Februari 2024

Miris, Kemacetan Jalan Mengakibatkan Korban Jiwa

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Ina Ariani

Oleh Ina Ariani 

Penggunaan jalan di Jambi yang didominasi oleh truk pengangkut batubara mengalami kemacetan parah selama 22 jam, sehingga memakan korban jiwa. Kemudian Gubernur Jambi Al Haris mengambil tidakan menghentikan sementara aktivitas angkutan batubara di Provinsi Jambi terhitung hari ini, Rabu (1/3). (Pikiranrakyat.com)

Al Haris mengatakan kemacetan yang terjadi sejak semalam hingga hari ini membuatnya mengambil sikap untuk menghentikan semua aktivitas angkutan batubara mulai dari mulut tambang hingga ke jalan Nasional.

“Kemacet yang terjadi di jalan nasional sejak tadi malam hingga hari ini dari Sarolangun hingga Batanghari, kami menghimbau pada seluruh pemegang IUP atau pengusaha tambang untuk sementara tidak mengadakan angkutan dari mulut tambang sampai ke ruas jalan nasional,” ujar Al Haris.

Kemacetan parah terjadi menjelang Simpang Tembesi, Kabupaten Batanghari, Jambi. Tak tanggung-tanggung, kemacetan sudah berlangsung 22 jam. Kemacetan jalan di Provinsi Jambi hingga mencapai 22 jam itu mengakibatkan peristiwa yang merugikan. Disebutkan jika penumpang ambulans di jalan tersebut meninggal dunia, bahkan ikan-ikan yang diangkut juga mati di tengah jalan.Jalan sepanjang 15 kilometer tersebut sudah dipadati mobil sejak pukul 10.00 WIB, Selasa (28/2/2023), namun sampai keesokkan harinya pada pukul 08.00 WIB (1/3/2023) kemacetan belum terurai.

Salah satu sopir mengeluhkan jika mereka turun tangan sendiri mengatur, sampai malam-malam belum juga ada petugas. Para sopir begadang semalaman di jalanan tersebut.

“Kita sopir-sopir inilah yang mengatur. Malam-malam begini mana ada petugas, mereka enak-enak tidur, kita begadang semalaman dijalan,” kata Doni, sopir ikan, Rabu 1 Maret 2023.

Ia mengaku rugi banyak, sebab sebagian ikan yang dibawa telah mati.

Sopir lainnya, Aden mengungkapkan jika kemacetan terjadi karena sudah tidak lagi bergerak. Dia pun mengaku mengalami banyak kerugian.

Salah satu penyebab kemacetan lalu lintas ini ialah padatnya truk angkutan batu bara di Jambi yang mencapai sekitar 8.300 hingga 11.500 unit. Truk ini melewati jalan nasional di Jambi karena belum tersedianya jalur khusus untuk angkutan batu bara tersebut.

Sementara itu, Rendi, Sopir batubara mengaku kerap menjadi sasaran tembak kemarahan masyarakat.

“Kalau sudah macet lebih dari 12 jam, apalagi sudah lebih dari sehari semalam, kami sopir batu bara ini kadang disalah-salahkan masyarakat, disebut biang kemacetan,” katanya.

Dia juga mengungkapkan kesedihannya akibat kemacetan tersebut, “Kami sedih melihat masyarakat selalu terjebak kemacetan. Ada orang sakit di Ambulans sampai meninggal, anak susah mau sekolah,” kata Rendi.

Kemudian, tidak hanya padatnya truk angkutan batu bara, kemacetan ini juga terjadi karena kondisi sekitar jalan yang memburuk akibat hujan lebat.

Di wilayah lain, juga didapatkan banyak jalan-jalan rusak yang membahayakan pengguna jalan. Dilansir dari PIKIRAN RAKYAT – Komisi III DPRD Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) segera meninjau jalan-jalan yang rusak di wilayah Kabupaten Kutai Timur. Tepatnya, kerusakan terjadi pada jalan poros Kecamatan Sangatta Utara menuju Kecamatan Bengalon.

Jalan-jalan yang rusak sehingga menimbulkan kemacetan dan kecelakan sudah hampir di seluruh wilayah tanpa terkecuali di Pekanbaru pun banyak jalan-jalan rusak akibat galian pipa milik perusahaan milik swasta, akibat dari itu warga dan masyarakat yang kena imbasnya.

Penggunaan jalan tidak sesuai peruntukannya telah mengganggu kehidupan rakyat. Padahal jalan adalah fasilitas umum yang seharusnya dapat dinikmati masyarakat dengan mudah dan nyaman. Pembagian jalan menurut penanggungjawabnya ikut berpengaruh terhadap keadaan jalan yang berdampak kepada manusia.

Dalam Islam jalan adalah salah satu kepemilikan umum, yang berarti bisa digunakan oleh setiap rakyat tanpa kecuali dengan tidak mengganggu aktivitas masyarakat.

Jalan adalah salah satu hal penting demi perputaran ekonomi suatu daerah. Jalan menjadi penghubung antarwilayah. Sehingga, jika ada kerusakan ataupun kondisinya yang berlubang akan mengancam para pengguna jalan dan membuat perjalanan terhambat.

Pengguna jalan merasa kecewa dengan pemungutan pajak yang masih berlangsung hingga saat ini. Namun kenyataannya, masih saja ada jalanan yang rusak hingga berbulan-bulan.

Jika saja pemimpin mau belajar dari sejarah. Salah satu kisah masa Kekhilafahan Umar bin Khattab adalah beliau selalu merasa khawatir jikalau ada hewan atau keledai (baca: hewan yang dikenal bodoh karena sering terperosok atau terperangkap di lubang yang sama) terluka akibat jalanan di Irak yang berlubang. Hal ini disebabkan Umar ra. yakin bahwa Allah Swt. akan bertanya, “Mengapa tidak engkau sediakan jalan yang rata?”

Jika Umar saja takut kalau hewan terluka, bagaimana dengan nyawa manusia yang di dalam Islam sangat berharga? Ingat! korban jiwa akibat kecelakaan saat ini adalah manusia, bukan keledai (baca: hewan). Dan ini seringkali terabaikan. ini adalah realitas bukan sekedar ketakutan yang tidak beralasan. Ingat pula Umar bin Khattab ini bukan hebat tersebab dirinya sendiri, akan tetapi karena keislamannya. Yaitu sistem Khilafahnya. Bukan pula seperti penguasa saat ini yang rusak bukan semata karena kesalahan dirinya sendiri, tapi juga sebab sistemnya, yaitu sistem kapitalis sekuler.

Dalam asas sekuler ini, jalan dipandang hanya sebatas infrastruktur yang mesti dikelola, sebab menjadi bagian penting dalam dunia industri dan sebagai penyedia jasa layanan publik saja. Paham ini mengenyampingkan aturan agama sebagai sistem kehidupan. Sehingga, jalan yang menjadi roda transportasi adalah kebutuhan masyarakat yang urgen. Dalam pandangan Islam, infrastruktur dan pelayanan publik adalah tanggung jawab pemerintah secara penuh.

Artinya, infrastruktur pembangunan dan perbaikan jalan menjadi salah satu jaminan pemeliharaan pemerintah demi melayani masyarakat agar kesejahteraannya terpenuhi. Kebutuhan rakyat akan transportasi dan jalanan yang baik itu dijamin dan dipermudah, bukan dipersulit dengan diabaikannya kondisi jalan berlubang ataupun dengan mahalnya harga tiket tol.

Pemenuhan pelayanan ini hanya mampu terpenuhi jika sistem ekonominya diatur oleh sistem ekonomi Islam. Islam akan memanfaatkan sumber daya alam untuk kesejahteraan masyarakat. Fasilitas-fasilitas umum yang dibangun pun dikelola oleh negara dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan masyarakat.

Rasulullah Saw. bersabda yang artinya: “Pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka” (HR. Ibnu Majah dan Abu Nuaim). Dalam riwayat lain, Rasulullah Saw. juga bersabda, “Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyat yang dia urus” (HR. Bukhari).

Tinta emas peradaban Islam mencatat masa Kekhilafahan Umayyah dan Abbasiyah, yaitu di sepanjang rute perjalanan Irak dan Syam ke Hijaz. Khalifah membangun banyak pondokan gratis lengkap dengan persediaan air, makanan dan tempat tinggal untuk memudahkan perjalanan para pelancong. Pada masa Khilafah Utsmani juga diberikan jasa transportasi gratis kepada masyarakat yang akan bepergian dengan berbagai keperluan menggunakan kereta api yang telah disiapkan oleh Khalifah.

Inilah yang seharusnya seorang penguasa lakukan. Mereka tidak akan memikirkan diri sendiri dan keuntungan pribadi atau kelompoknya saja. Namun, juga berpikir bagaimana caranya agar rakyat bisa terlayani dengan baik. Sayangnya, kehidupan saat ini sangat jauh dari nilai dan aturan Islam. Hal ini menyebabkan para penguasanya menganggap kekuasaan itu sebagai keuntungan yang tidak boleh disia-siakan.

Mereka menganggap kekuasaan menjadi lebih penting dari sekadar memikirkan tanggung jawab besar sebagai pemimpin. Para penguasa seperti ini, hendaknya merenungi sabda Rasulullah Saw. berikut: “Jabatan (kedudukan) itu pada permulaannya penyesalan, pertengahannya kesengsaraan dan akhirnya adalah azab pada hari kiamat” (HR. Ath-Thabrani).

Wallahu a’lam bishsawab***

 

Aktivis Muslimah Perduli Ideologis Pekanbaru

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *