Perempuan Dianiaya, Salah Siapa?

(ilustrasi)

Oleh: Alfi Ummuarifah S.Pd

Kejadian penganiayaan pada perempuan terjadi lagi. Berulang-ulang seakan tak pernah usai. Kasus baru muncul menambah deretan kasus lama yang tidak tuntas.

POLRI memutuskan memberikan sanksi pemberhentian tidak dengan hormat (PTDH) kepada Bripda Randy Bagus, anggota polisi yang terlibat kasus bunuh diri seorang perempuan di Mojokerto. Ia adalah mahasiswi yang ditemukan meninggal di samping makam ayahnya di Mojokerto, Jawa Timur (TEMPO.CO, 5/12/2021).

Beginilah saat wanita direndahkan. Jauh dari kata dimuliakan. Sistem kejam ini memang penyebabnya. Sistem yang membebaskan perilaku bebas terjadi.

Wajarlah jika semua orang bebas sekehendak hati. Dibiarkan menzalimi. Difasilitasi untuk bermaksiat secara rapi. Tidak bernyalinya hukum aborsi. Minimnya perawatan terhadap pasien depresi yang terjangkau. Minimnya pengawasan dalam pencegahan tindakan kriminal termasuk bunuh diri. Semua ini menunjukkan kebobrokan sistem ini.

Perempuan menjadi pihak yang tak bernilai apa-apa. Hanya menjadi pemuas nafsu laki-laki. Dia seperti barang yang tak bernilai sama sekali. Pacaran, pergaulan bebas yang dibolehkan sistem ini telah terbukti menimbulkan mudarat dan bahaya bagi generasi.

Akibatnya perempuan berada dalam pusaran perilaku nafsu bejat seseorang sekehendak hati. Rentetan peristiwa akibat pergaulan bebas itu selanjutnya lebih parah lagi. Aborsi, depresi lalu bunuh diri. Sesuatu yang biasa terjadi berulang kali.

Andai sistem itu rusak. Selayaknya tak dipakai lagi.

Tengoklah sistem yang manusiawi. Sistem itu masih ada. Sistem Islam misalnya. Sistem yang menutup celah terjadinya penganiayaan pada perempuan.

Mulai dari pengaturan larangan mendekati zina (pacaran), kholwat, ikhtilat, bepergian bersama mahram. Termasuk juga hukum kewajiban berjilbab, berpakaian sempurna, berakhlak baik, pengaturan tiga waltu meminta ijin memasuki ruangan orang tua dan sebagainya.

Jika itu yang diberlakukan, tentu kejadian ini tak akan terjadi. Perempuan itu mulia. Sangat dimuliakan oleh Islam. Tak boleh disentuh jika syariat tak mengizinkan. Hukum tentangnya dibuat agar perempuan tak dihinakan dan direndahkan.

Wajah kepolisian pun tercoreng sudah. Perilaku seorang oknum polisi itu mencederai nurani. Perempuan itu direndahkan. Dihancurkan kehormatannya secara culas. Padahal perempuan itu butuh diayomi dan dimuliakan.

Parahnya sebagai pelayan masyarakat. Oknum polisi itu bukannya melindungi. Oknum POLRI itu justru mendorong korban melakukan kriminalitas berikutnya. Kemana nuraninya saat itu. Bayi yang digugurkan itu jika bisa bicara. Tentulah akan bertanya, untuk alasan apa dia dibunuh?

Begitulah saat sistem kapitalisme yang diberlakukan. Ada banyak sisi yang bisa dievaluasi. Terkait dengan kebebasan bertindak (bebas pacaran, aborsi, membeli zat beracun dan berbahaya dengan mudah). Penindakan kriminal yang tidak tuntas. Terus berulang karena sistemnya mengamini.

Berkebalikan dengan sistem Islam yang berlaku. Saat perempuan dimuliakan. Perempuan baru boleh disentuh setelah melalui pernikahan. Jika terjadi pembunuhan harus dibayar setimpal dengan hukum Qishos. Jika ahli waris memaafkan, maka diyatnya aborsi setara dengan sepersepuluh diyat orang dewasa (10 ekor unta). Hukum seperti ini menjadi pencegah agar kasus tak berulang. Sebab ketegasan hukumnya itu.

Kita tak boleh lupa bahwa hukum atas benda dan zat kimia yang membahayakan itu. Begitu mudahnya diperoleh dan diakses masyarakat. Bahan seperti itu seharusnya didapatkan melalui ijin yang rumit. Agar tak mudah disalahgunakan.

Adapun pengawasan kepolisian atas keamanan masyarakat tidak boleh kosong. Pengontrolan keamanan dari polisi negara selayaknya penuh 24 jam. Semua itu untuk meminimalisir tindakan kriminal. Termasuk kejadian bunuh diri.

Maka perempuan yang menjadi sosok tak berharga hanya ada dalam sistem selain islam. Sebagaimana dahulu di masyarakat Makkah. Hal ini disinggung dalam QS. An-Nahl ayat 58 berikut ini.

وَاِذَا بُشِّرَ اَحَدُهُمۡ بِالۡاُنۡثٰى ظَلَّ وَجۡهُهٗ مُسۡوَدًّا وَّهُوَ كَظِيۡمٌ‌ۚ

Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan. Wajah mereka menjadi hitam (merah padam), dan dia sangat marah.
Begitulah buruknya perlakuan masyarakat saat itu terhadap seorang perempuan. Diskriminasi terhadap perempuan justru terjadi dengan begitu mudah oleh sistem rusak ini.

Mereka menisbatkan para malaikat sebagai putri-putri Allah. Padahal apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan kelahiran anak perempuan. Mereka malu dan kecewa sehingga wajahnya menjadi hitam, merah padam, dan kusut. Mereka pun sangat marah atas kabar tersebut.

Selanjutnya Allah swt mengungkapkan sikap mereka mengenai anak perempuan yaitu apabila mereka diberi kabar bahwa istri mereka melahirkan anak perempuan, muramlah muka mereka karena jengkel dan malu.

Perasaan serupa itu disebabkan oleh perasaan mereka sendiri bahwa anak-anak perempuan itu hanya memberi malu kaumnya, karena anak-anak perempuan itu tidak dapat membantu dalam peperangan, dan apabila mereka kalah perang, anak-anak perempuan menjadi barang rampasan.

Sebenarnya mereka dihukum oleh perasaan mereka sendiri karena anggapan bahwa wanita itu martabatnya tiada lebih dari barang yang boleh dipindahtangankan.

Demikianlah tak ada bedanya sistem jahiliyah masa lalu dengan sistem kapitailis hari ini. Sama-sama merendahkan perempuan. Perempuan tidak dimuliakan. Syariat dituduh diskriminatif terhadap perempuan dari sisi hukumnya. Mereka telah menuduh Islam dengan tuduhan yang bukan-bukan.

Padahal mereka telah buta, sesungguhnya kapitalismelah yang merendahkan perempuan. Perempuan lebih rendah dari barang dan hewan. Masihkah kita pertahankan sistem sekuler yang merendahkan perempuan ini?

Sampai kapan ada Novia-Novia yang berikutnya? Selama sistemnya masih membiarkan kebebasan berperilaku, selama itu pula perempuan akan direndahkan. Hanya Islam yang memuliakan perempuan sejak saat dia dilahirkan, remaja dan saat menjadi ibu generasi.

Wallahu a’lam bish-showaab***

Pegiat Literasi Islam Kota Medan

Tinggalkan Balasan

Next Post

Dikalahkan Liverpool di San Siro, AC Milan Tersingkir dari Liga Champions

Rab Des 8 , 2021
473 Milan (Riaunews.com) – AC Milan tersingkir dari Liga Champions usai menderita kekalahan 1-2 dari Liverpool pada laga pamungkas Grup […]
%d blogger menyukai ini: