Rabu, 1 Februari 2023

Potret Buram Generasi Hanya Bisa Diselamatkan Dengan Islam

Ina Ariani

Oleh: Ina Ariani

Tawuran antar pelajar sepertinya menjadi “budaya” baru bagi remaja di negeri ini. Acap kali kita disuguhi berita tentang tawuran pelajar yang tidak kunjung kelar.

Fenomena tawuran pelajar terjadi di banyak tempat. Berita seputar remaja selalu berkutat pada persoalan kerusakan moral, seperti pergaulan bebas, kekerasan seksual, narkoba dan tawuran. Mengapa tawuran pelajar seakan menjadi “tradisi” yang mengakar di dunia pendidikan?

Aksi tawuran berdarah di kota Palembang makin masif, sempat mereda selama pandemi kini mulai marak lagi. Terakhir kasus tawuran di Palembang Minggu 15 Januari 2023. Satu orang dikabarkan tewas. (Sumeks.co)

Masih berita tentang tawuran, Polres Metro Tangerang Kota mengamankan 72 remaja yang hendak tawuran di Neglasari, Kota Tangerang, Ahad (15/1/2023). Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Pol Zain Dwi Nugroho mengatakan puluhan remaja itu diamankan dalam patroli cipta kondisi (cipkon) yang dilakukan rutin oleh jajarannya di malam hari. Menurut Zain, patroli dilakukan di daerah itu karena sudah banyak warga yang resah dan melaporkan aktivitas puluhan remaja yang mencurigakan tersebut. (Kompas.com)

Belum lagi aksi gila yang dilakukan oleh seorang remaja berinisial M tewas usai menghentikan paksa satu unit truk yang tengah melaju dari Exit Tol Gunung Putri, Desa Gunung Putri, Kecamatan Gunung Putri, Kabupaten Bogor.

Padahal Pemerintah Desa Gunung Putri telah melakukan pengawasan agar tidak ada kejadian penghentian paksa truk oleh remaja dan anak-anak.

Kades Gunung Putri, Daman Huri, mengakui selama beberapa bulan terakhir pihaknya melakukan pengawasan melalui CCTV Exit Tol pada malam hari. Namun, peristiwa tertabraknya M pada Sabtu (14/1/2023) terjadi pada siang hari.

Bukan hanya kasus tawuran saja, ada geng motor(klithih), pembunuhan, penyalah gunaan narkoba, kasus pornoaksi/pornografi, seks bebas, prostitusi, aborsi, dan masih banyak kasus-kasus lainnya.

Sangat miris melihat perilaku generasi saat ini yang minim visi, sibuk mengejar duniawi, eksistensi serta harga diri. Yang tampak justru hanya potret betapa bobroknya generasi hari ini. Dan hal ini makin parah ketika negara juga tidak punya visi penyelamat generasi. Jadilah generasi menjadi kemana arus bertiup, abai terhadap bahaya yang mengancam.

Sungguh musibah yang sangat besar karena semua kejahatan itu banyak melibatkan para pemuda yang seharusnya menjadi generasi penerus estafet kepemimpinan bangsa.

Semua adalah buah dari sistem kapitalis sekuler

Potret buram remaja saat ini merupakan hasil dari sistem kapitalis sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan, sehingga mereka tidak mengetahui tujuan diciptakannya manusia di muka bumi ini. Mereka tidak mengetahui jati diri yang senenarnya, sehingga mereka kehilangan arah dalam menjalani kehidupan ini.

Dengan sistem kapitalis sekuler, mereka di arahkan pada kehidupan dunia yang fana ini saja dan hanya sebatas untuk mencari harta, jabatan, senang-senang, hedonisme, yang sifatnya hanya pemuasan hawa nafsu semata, tanpa dibekali pemahaman bahwa setiap aktivitas yang kita lakukan di dunia ini akan dimintai pertanggungjawaban kelak di akhirat. Pengarusan opini tentang pemuasan hawa nafsu yang sesat begitu kuat dan kental, sehingga banyak remaja muslim yang terjerumus ke dalam kubangan kemaksiatan.

Hingga akhir tahun 2022 ada banyak problem yang terjadi di Indonesia, yang belum terselesaikan dengan tuntas. Terlebih terkait dengan kondisi generasi muda. Dengan berbagai persoalan tersebut harapan ada perbaikan kondisi pada tahun 2023 sangatlah tipis. Apalagi saat ini fokus para pejabat sudah biasa dengan agenda pemilu tahun 2024. pengurusan umat akan makin terbengkalai.

Inilah yang terjadi, semakin tampak tidak karuan pemuda dan masa depannya. Generasi muda, khususnya generasi muslim makin jauh dari ajaran Islam, padahal mereka dengan potensinya adalah khairu ummah. Mereka harus dibangkitkan potensinya karena merupakan kunci perjuangan dan kebangkitan kemuliaan Islam. Generasi sudah seharusnya mempelajari Islam secara kafah agar memiliki visi yang jelas dan mulia ke depan nya.

Hanya negara Islam yang memiliki visi mulia terhadap pemuda juga memiliki metode untuk menyelamatkan generasi.

Peran Pemuda dalam Islam

Imam Syafi’I pernah berkata, “Hayaatu al-fata bil ‘ilmi wa at-tuqa.” (hidupnya seorang pemuda adalah dengan ilmu dan takwa). Ada tiga kata kunci penting yang dapat digali dari ungkapan tersebut, pertama kata dari “pemuda”, yang kedua “ilmu”, dan yang terakhir adalah “takwa”.

Tiga kata kunci ini harus menjadi satu kesatuan yang utuh untuk membangun para pemuda dengan ilmu tinggi yang diiringi dengan ketakwaan, sehingga diharapkan dapat menjadi aset bangsa penggerak ke arah perubahan lebih baik.

Dengan ilmu dan takwa itulah, Rasulullah Saw. berhasil mendidik dan membina para sahabat sebagai pejuang Islam yang tangguh. Di masa Islam, pemuda memainkan peranan penting dalam fondasi peradaban Islam.

Peran itu terwujud dalam profil mereka di lintas sejarah. Di masa Rasulullah Saw., ada Ali bin Abi Thalib yang saat itu masih berusia belia, berani menggantikan posisi Rasulullah Saw. untuk mengecoh kaum Quraisy yang hendak mengepung rumah beliau. Peristiwa itu terjadi saat Rasul memutuskan hijrah ke Madinah.

Ada pula sosok Mush’ab bin Umair yang menjadi duta Islam di Madinah. Beliau diutus Rasul untuk mengenalkan dan mengajarkan Islam ke penduduk Madinah. Hasilnya berupa Baiat Aqabah kedua yang menjadi cikal bakal berdirinya Daulah Islam di Madinah.

Ada sosok Usamah bin Zaid pada usia 18 tahun dipercaya Rasulullah untuk memimpin pasukan yang di dalamnya ada sahabat-sahabat ternama, seperti Abu Bakar dan Umar bin Khaththab. Pasukannya berhasil dengan gemilang mengalahkan tentara Romawi.

Tokoh militer Islam yang dijuluki “singa yang kukunya tajam”, Sa’ad bin Abi Waqash masuk Islam di usia 18 tahun. Sa’ad adalah orang pertama yang melepaskan anak panah di jalan Allah. Ia ditunjuk menjadi panglima kaum Muslim di Irak dalam perang melawan Persia pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Ada Atab bin Usaid diangkat menjadi gubernur Makkah pada usia 18 tahun.

Di masa Kekhilafahan Islam juga banyak melahirkan para Imam dan ilmuwan yang hafal Al-Qur’an di usia tujuh tahun. Ada Imam Syafi’i, Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al Farabi, dll. Ibnu Rusyd misalnya, seorang ilmuwan sains dan kedokteran yang terkenal di Andalusia (Spanyol), ternyata waktu kecilnya dihabiskan untuk belajar berbagai disiplin ilmu: Al-Quran, tafsir, hadis, dan fikih.

Begitu luar biasa pemuda Islam dalam asuhan sistem Islam kaffah. Kekhilafahan Islam kala itu berhasil menguasai dua pertiga dunia. Peradabannya bertahan selama 13 abad. Muhammad Al Fatih adalah satu di antara gemilangnya sistem pendidikan Islam membina dan mendidik generasi mudanya sebagai sosok fenomenal.

Sosok-sosok mereka tak akan kita temukan di peradaban kapitalisme. Berbagai disiplin ilmu mereka tekuni. Namun, di sistem sekuler kapitalis, generasi ini hanya menjadi batu loncatan untuk mendukung program korporasi. Yakni berdaya guna dalam industri.

Dalam surah Ali Imran ayat 140 yang artinya,
“…. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan di antara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada’. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim.

Peradaban demokrasi kapitalis sudah menunjukkan tanda kematiannya. Bukankah sudah saatnya kini giliran Islam tampil sebagai peradaban unggul di pentas dunia? Tentu dimulai dari generasi mudanya. Pemuda, jadilah pelopor perubahan, promotor kebaikan Islam, dan pionir kebangkitan. Indonesia dan dunia berkah dengan Khilafah.

Wallahu A’lam Bishawab***

 

Aktivis Muslimah Peduli Pekanbaru

Tinggalkan Balasan