Kamis, 29 Februari 2024

Putus Sekolah, Potret Rusak Sistem Kapitalisme

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 

Oleh  Reni Susanti, S.AP, pemerhati kebijakan publik

Apa jadinya bila anak bangsa mengalami kesulitan untuk bersekolah? Sungguh miris nasib bangsa dan negara Indonesia bila hal ini terjadi.

Anggota DPRD Riau, Ade Hartati Rahmat menyebutkan ada 9000 anak terancam putus sekolah disebabkan banyaknya sekolah negeri yang jumlah siswanya melebihi kapasitas dan masih ada yang melaksanakan kegiatan daring disebabkan keterbatasan kelas.

Alasan orang tua banyak melanjutkan pendidikan anaknya ke SMA/SMK negeri karena biaya pendidikan di sekolah swasta sangat mahal, bahkan tak sedikit memilih untuk putus sekolah. (ANTARA, 18/01/2024)

Katanya, tujuan NKRI yang tertera pada Pembukaan UUD 1945 alenia keempat salah satunya adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Bahkan dalam UU Pasal 31 ayat 1 dan 2 disebutkan “(1) Setiap warga negara berhak mendapatkan pendidikan. (2) Setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”.

Namun sayang, hal tersebut tidak terbukti bila dilihat dari fakta yang terjadi pada masyarakat Indonesia terutama di Riau.

Kondisi sulit ini tidak mengherankan bagi kita yang menyadari bahwa akar permasalahannya adalah sistem kehidupan yang rusak, yang memisahkan agama dari kehidupan. Tidak lain adalah sistem kapitalisme.

Jaminan pendidikan dalam Islam

Dalam sistem kehidupan Islam, negara menjamin setidaknya lima kebutuhan rakyatnya yaitu sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan. Semua itu didapatkan gratis oleh rakyat, baik orang kaya maupun miskin.

Tidak heran, pada masa Khilafah, terdapat kota-kota tertentu yang menjadi pusat pendidikan, seperti Madinah, Baghdad, Damaskus, dan Al-Quds. Warga Khilafah maupun dari luar Khilafah berbondong-bondong melangkahkan kaki menuju kota-kota tersebut demi mereguk aliran ilmu langsung di pusat mata airnya. (Muslimah News)

Bila bicara output yang dihasilkan dari sistem pendidikan islam, sangat jauh lebih berkualitas dan bermoral dibandingkan dengan sistem pendidikan sekuler saat ini. Terbukti banyak ilmuwan islam yang menyumbangkan ilmunya hingga sampai saat ini masih digunakan oleh ‘peradaban barat’.

Contohnaya seperti Ibnu Sina dalam bidang ilmu kesehatan atau kedokteran, Al-Khawarizmi ahli matematika dan astronomi, penemu algoritma, Jabir Ibn Hayyan disebut bapak kimia modern yang memberikan kontribusi besar dalam ilmu kimia, Ibn Al-Haytham dikenal dengan bapak optik, Al-Jazari pencipta robot pertama kali, Al-Zahrawi ahli bedah. Dan masih banyak lagi.

Mereka semua hidup dalam sistem kehidupan islam dan sistem pendidikan islam. Tanpa mereka, peradaban barat tidak ada apa-apanya.

Oleh karena itu, jangan terlena dengan sistem kufur lagi menyesatkan, menyengsarakan dan merusakkan. Hendaknya kaum muslimin kembali kepada Islam sebagai aturan dan sistem kehidupan. Yang akan memberikan kebahagiaan dan ketenangan didunia maupun akhirat.

Allahu a’lam bisshowab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *