Minggu, 25 September 2022

Solusi Tuntas Resesi Seks

Yenni Sarinah.

Oleh : Yenni Sarinah, S.Pd

PERILAKU menyimpang yang menjauhi fitrah penciptaan manusia, sejatinya akan menemui titik puncak kehancurannya. Resesi seks berawal dari keengganan untuk melakukan aktivitas seksual yang normal melalui pernikahan disebabkan oleh banyak faktor. Terutama faktor yang diperoleh dari pengabdosian paham kebebasan (liberalisme) yang lahir dari rahim sistem sekuler kapitalisme.

Meningkatkan gaya hidup permisifisme (serba bebas), yang berujung pada liarnya tingkah laku dan kehidupan manusia hingga pemenuhan hajat hidup manusia yang tidak pada tempatnya dan tidak semestinya. Ditandai dengan kian maraknya aksi suka sesama jenis (LGBT), hingga gaya hidup free child yang melanda pasangan yang telah menikah dengan berbagai alasan, pada akhirnya menjadikan generasi lupus kian dekat saja.

Bumi ini berlanjut, hanya kita saja yang dibatasi umur.

Untuk melanjutkan kehidupan di dunia, kita butuh regenerasi. Jika satu individu hanya membatasi jumlah kelahiran, maka hanya akan memperlambat ledakan pertumbuhan manusia di dunia. Tapi, jika sesama jenis justru saling suka, maka umat manusia diambang kepunahan.

Resesi seks, menjadi hideline beberapa tahun belakangan ini, misalnya saja pekan ini. ‘Resesi Seks’ Kian Nyata, Kini Menghampiri Jepang. (cnbcindonesia.com, 03/06/2022).

Fenomena resesi seks mulai melanda Jepang. Hal ini terlihat dari sebuah laporan pemerintah yang menyebut angka kelahiran Negeri Sakura merosot. Ada 811.604 kelahiran di Jepang pada tahun lalu. Angka ini merupakan rekor terendah sejak 1899.

Di sisi lain, angka kematian naik menjadi 1.439.809 jiwa. Hal ini menyebabkan penurunan populasi hingga 628.205 jiwa.

Selain itu, tingkat kesuburan keseluruhan turun selama enam tahun berturut-turut, menjadi 1,3.

Tingkat kesuburan keseluruhan ini sendiri menggambarkan jumlah rata-rata anak yang lahir dari seorang wanita seumur hidupnya.

Jepang sendiri merupakan negara yang mengalami penuaan tercepat di dunia. Dengan angka kelahiran yang rendah, Tokyo saat ini mulai mengandalkan pekerja dari luar negeri.

Tak hanya Jepang, baru-baru ini Singapura juga mengalami kejadian serupa. pada 2021, angka kelahiran negara kota itu hanya mencapai 1,12 bayi per wanita. Angka ini tergolong sangat rendah bila dibandingkan dengan rata-rata global yang berkisar di angka 2,3.

Beberapa cara telah dilakukan Pemerintah Singapura untuk mengatasi hal ini.

Sebelumnya pihak berwenang menawarkan insentif uang tunai ‘bonus bayi’ untuk menaikan angka kelahiran.

Selain itu, saat ini pusat keuangan Asia itu berencana mengizinkan para wanita lajang untuk membekukan sel telurnya mulai tahun depan. Hal ini untuk membuka kemungkinan bagi para wanita untuk hamil sekalipun saat tubuhnya tak lagi memproduksi sel telur.

Dan tentunya ini butuh biaya yang tidak sedikit.

Sungguh kapitalisme memandang ini solusi yang menguntungkan bagi kepentingan mereka.

Guna menghalangi resesi seks ini turut melanda Indonesia, maka harus ada upaya untuk mengembalikan manusia dengan memotivasi mereka melakukan aktivitas seks di lembaga pernikahan yang sah dan normal dalam kehidupan pernikahannya, sehingga terhindar dari apa yang disebut sebagai resesi seks.

Selain itu juga harus ada perubahan paradigma berpikir dalam masyarakat kita, yang semestinya segera diikuti dengan perubahan penerapan sistem hidup. Dari sistem hidup yang salah (kapitalistik yang serba hedon), kepada sistem hidup yang benar (yaitu sistem Islam kaffah yang paripurna).

Selain dapat menyelamatkan kehidupan manusia, juga yang memenuhi 3 syarat mutlak yaitu sesuai dengan fitrah penciptaan manusia, memuaskan akal dan menentramkan jiwa manusia.

Dalam sistem hidup Islam kaffah, segala pemenuhan kebutuhan hidup manusia akan diatur berdasarkan hukum syariat Islam kaffah yang akan diterapkan oleh negara, yang akan menghukumi seluruh perbuatan manusia berdasarkan hukum syariat Islam.

Jika syariat memperbolehkan sesuatu, maka sesuatu itu akan diterapkan dan diberlakukan dalam kehidupan. Namun, jika syariat melarang sesuatu, maka sesuatu tersebut tidak akan diberlakukan.

Secara kasat mata, jika syariat melarang pergaulan bebas, maka pergaulan bebas tersebut akan dilarang untuk dilakukan oleh manusia, termasuk seluruh sarana yang dapat mengantarkan pada pergaulan bebas tersebut.

Jika syariat Islam menghalalkan pernikahan yang disyariatkan, maka negara akan memberlakukan dan melegalkan pernikahan yang disyariatkan yang berlaku. Bagi yang melanggarnya akan dikenai sanksi yang berat dan menjerakan.

Dengan pemberlakuan hukum syariat Islam kaffah diharapkan seluruh tata pergaulan manusia akan terjaga kehormatan dan kesuciannya.

Sistem ini juga akan menjadikan negara mengambil peran dengan mengambil tanggung jawab untuk memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya secara kaffah, seperti kebutuhan dasar manusia yaitu sandang pangan, papan, kesehatan, keamanan dan pendidikan akan ditanggung dengan sempurna oleh sistem Islam.

Dengan demikian manusia tidak akan menanggung beban hidup yang sangat berat dalam kehidupannya untuk menghidupi orang-orang yang ada dalam tanggungan nafkahnya. Sebab negara memberikan bantuan dan pertolongan sesuai kadar kebutuhan rakyatnya.

Keimanan dan ketaqwaan juga akan turut diberdayakan dengan berbagai aktifitas kehidupan, sehingga akan mendorong manusia untuk melakukan aktivitas perbuatannya berdasarkan perintah dan larangan dari hukum syariat yang berasal dari tuntunan wahyu Ilahi, bukan hawa nafsu manusia semata.

Penerapan hukum syariat Islam kaffah ini akan sangat memungkinkan terwujudnya masyarakat yang sehat jiwa raganya, bersih lahir batinnya, juga normal kehidupannya sesuai dengan fitrah penciptaan manusia, serta memuaskan akal dan menentramkan jiwa.

Sungguh resesi seks yang melanda dunia dan berpengaruh langsung terhadap terjadinya resesi ekonomi di seluruh penjuru dunia, tidaklah bisa diatasi hanya dengan mendorong individu untuk melakukan pernikahan tanpa mengubah sistem yang rusak itu (kapitalisme – liberalisme – demokrasi).

Seharusnya manusia sadar dan segera menjadikan sistem Islam kaffah yang sempurna itu sebagai sistem yang sempurna pula mengatur hidup dan kehidupan manusia. Wallahua’lam.***

 

Pegiat Literasi Islam Asal Selatpanjang, Riau

Tinggalkan Balasan