Minggu, 14 April 2024

Sungguh Terlalu: Musuh Kok Dianggap Tamu

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Alfiah S.Si

Oleh : Alfiah, S.Si

KINI tepat 99 tahun kaum muslim hidup tanpa perisai (Khilafah) semenjak diruntuhkan oleh Mustafa Kemal Pasha pada tanggal 3 Maret 1924. Ketiadaan Khilafah (sistem pemerintahan Islam) dibawah kepemimpinan seorang Khalifah membuat nasib umat Islam porak-poranda.

Negeri-negeri kaum muslim kini telah terpecah menjadi lebih dari 50 negara. Umat Islam yang jumlahnya terbesar kedua di dunia, yakni 2 miliar penganut, membentuk sekitar 25% populasi dunia tak lebih seperti buih di lautan.

Para penguasa di negeri-negeri kaum muslim yang seharusnya menghormati saudaranya sesama muslim justru menganggap musuh yang jelas-jelas memerangi umat Islam sebagai tamu. Seperti yang dilakukan pemerintah Indonesia yang mayoritas muslim.

Seperti diketahui, Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, justru menerima kehadiran timnas Israel di Piala Dunia U20 2023 yang akan digelar di Indonesia pada 20 Mei-11 Juni 2023.

Erick Thohir tak mempermasalahkan kehadiran timnas Israel meski negara tersebut tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Indonesia. Dia menegaskan bahwa setiap negara yang lolos ke Piala Dunia U20 2023 akan disambut dan dilayani dengan baik, termasuk Israel (Kompas.com, 02/03/2023). Erick Thohir bahkan menjamin keamanan Timnas Israel U20 selama Piala Dunia U20 2023. Menurut dia, hal itu sudah menjadi tanggung jawab Indonesia sebagai tuan rumah.

Harus dipahami bahwa Israel adalah penjajah dan perampas tanah Palestina dari tangan kaum Muslim. Baru-baru ini saja Yahudi Israel melalui tentaranya kembali melakukan penyerangan terhadap penduduk Palestina. Serangan itu mungkin sudah puluhan kalinya dilakukan.

Tentara Israel menyerang kamp pengungsi Palestina di Jenin. Mereka pun menyerang Kota Nablus dan berikutnya mengebom Gaza. Serangan itu menimbulkan sejumlah warga Palestina tewas dan banyak lainnya terluka; juga menyebabkan hancurnya rumah, kamp pengungsian, fasilitas masyarakat, sekolah bahkan rumah sakit.

Perlu diketahui agresi Israel terhadap warga Palestina ternyata terus meningkat. Tahun 2022 dinilai sebagai tahun terburuk. Jumlah korban agresi Israel di tahun 2022 mencapai 225 jiwa. Memasuki tahun 2023, serangan Israel makin brutal. Selama Januari 2023, korban serangan Israel mencapai 35 jiwa warga Palestina. Selama Februari jumlah korban mencapai 30 warga Palestina tewas. Ini belum termasuk korban luka serta hancurnya rumah, kamp pengungsian, bangunan, harta benda dan fasilitas lainnya.

Alasan bahwa olahraga tidak selayaknya dikaitkan dengan politik adalah bentuk sesat pikir. Semestinya, negeri ini yang merupakan negeri berpenduduk Muslim terbesar di dunia dapat menunjukkan sikap solidaritas terhadap Palestina dan warganya.

Negeri ini mestinya mendesak FIFA untuk memperlakukan Israel seperti perlakuan mereka terhadap Rusia, dan menolak Israel untuk ikut event Piala Dunia U-20 Mei mendatang. Jika hal yang serupa sudah terjadi di Piala Dunia maka semestinya juga dapat dilakukan di event ini.

Dengan demikian menerima begitu saja Israel dalam event ini, bahkan melayani Israel dengan baik dan menjamin keamanannya—dengan alasan sebagai tuan rumah, olahraga tidak boleh dikaitkan dengan politik, atau alasan lainnya—sungguh menunjukkan kepalsuan solidaritas Pemerintah Indonesia terhadap sesama kaum Muslim di Palestina.

Islam sesungguhnya memberikan tuntunan yang sangat jelas untuk menyikapi agresor dan penjajah Israel yang memerangi kaum Muslim. Sikap itu bukan dengan sekadar mengutuk Israel dan memberikan bantuan termasuk dana kepada warga Palestina yang menjadi korban. Memberikan bantuan dan menolong para warga Palestina yang menjadi korban memang perkara yang baik dan diperintahkan oleh syariah.

Namun, semua itu tidak cukup untuk menghentikan dan melenyapkan kejahatan Israel dan melindungi kaum Muslim Palestina. Sikap yang semestinya adalah memerangi siapapun yang memerangi kaum Muslim. Allah SWT memerintahkan:

وَقَاتِلُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ الَّذِينَ يُقَاتِلُونَكُمْ وَلَا تَعْتَدُوا

Perangilah oleh kalian di jalan Allah orang-orang yang memerangi kalian, (tetapi) janganlah kalian melampaui batas. (TQS al-Baqarah [2]: 190).

Itulah sikap dan balasan yang tepat oleh kaum Muslim terhadap agresor dan perampas tanah kaum Muslim. Sikap itulah yang seharusnya ditunjukkan oleh kaum Muslim terhadap Yahudi agresor dan perampas tanah Palestina. Semua itu menjadi kewajiban kaum Muslim, bukan hanya penduduk Palestina saja. Allah SWT berfirman:

وَإِنِ اسْتَنصَرُوكُمْ فِي الدِّينِ فَعَلَيْكُمُ النَّصْرُ

Jika mereka meminta pertolongan kepada kalian dalam (urusan pembelaan) agama, maka kalian wajib memberikan pertolongan. (TQS al-Anfal [8]: 72).

Jika musuh yang jelas-jelas memerangi kaum muslim dianggap tamu yang harus dimuliakan, maka dimana solidaritas kita sebagai saudara sesama muslim? Sudah tidak adakah keimanan, saling mencintai, mengasihi dan empati? Padahal Rasulullah SAW bersabda :
”Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam bi ash shawab***

 

Penulis pegiat literasi Islam

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *