Selasa, 23 April 2024

Tak Hanya Laki-Laki, Anak Perempuan Juga Bisa Menjadi Pelaku Bullying!

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 

Oleh Ina Ariani (Aktivis Muslimah Pekanbaru)

Miris, anak perempuan di bawah umur menjadi pelaku bullying terhadap sesama perempuan. Polresta Barelang, Kepulauan Riau-Batam, mengamankan empat orang perempuan tersangka pelaku perundungan atau bullying. Yang vidionya beredar diberbagai media. (Liputan6.com, 3/3/2024).

Akibat dari perundungan tersebut empat orang tersangka dijerat Pasal 80 (1) jo. Pasal 76 c UU 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman pidana penjara paling lama 3 tahun 6 bulan dan/atau denda paling banyak Rp 72 juta, dan juga dijerat dengan Pasal 170 Ayat (1) KUHP tentang pengeroyokan secara bersama-sama dengan ancaman penjara 7 tahun. Penjelasan dari Polresta Batam Kombes Nugroho Tri.

Hukum di Sistem Kapitalis

Akan terus-menerus bermunculan kasus baru dengan motif kurang lebih sama ditempat berbeda. Ya, begitulah sistem kapitalis sekuler, karena pelakunya adalah anak-anak, maka diterapkan hukum peradilan anak, dan anak sebagai anak berhadapan hukum, dengan sanksi yang lebih rendah.

Model sistem peradilan seperti ini, yang merujuk pada definisi anak adalah di bawah usia 18 tahun menjadi celah banyaknya kasus bullying yang tak membuat jera pelaku. Islam memiliki sistem sanksi yang shahih yang mampu membuat jera termasuk dalam menetapkan pertanggungjawaban pelaku dalam batas balighnya seseorang atau usia 15 tahun.

Faktanya dalam Islam anak usia pelaku perundungan diatas mereka sudah baligh, sudah seharusnya diterapkan hukum sanksi sesuai dengan hukum Islam. Yaitu memberikan efek jera bagi si pelaku perundungan, agar virus-virus perundungan hilang tidak menyasar ke generasi berikutnya.

Akar Penyebab Bullying

Fungsi pengasuhan oleh keluarga kini telah runtuh. Fenomena maraknya anak menjadi pelaku kekerasan menggambarkan lemahnya pengasuhan terhadap anak. Keluarga seharusnya mengasuh anak dengan baik, sehingga anak tahu halal/haram dan baik/buruk sehingga mafhum bahwa bullying merupakan hal yang haram dan buruk sehingga tidak boleh dilakukan.

Tingginya biaya hidup, sehingga menuntut para orangtua untuk memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga, yang seharusnya tugas mencari nafkah itu adalah ayah. Kini peran ibu sebagai umum warabatulbait pun tergerus oleh tuntutan itu, harus membantu ayah mencari nafkah sehingga nya pengasuhan pada anak pun terabaikan.

Akibatnya, muncullah generasi minus kasih sayang yang bertindak tanpa arahan, semata demi memuaskan rasa kasih sayang yang tidak dia temukan di rumah. Anak-anak lucu hilang seketika akibat pengaruh sistem.

Sstem pendidikan hari ini juga gagal mencetak generasi anak didik yang berprilaku berkepribadian mulia. Sekolah yang seharusnya menjadi tempat yang aman bagi anak, justru dipenuhi aksi kekerasan. Hari ini anak-anak dididik dengan sistem sekulerisme. Menjauhkan agama dari kehidupan.

Akibatnya, anak hanya menerima informasi/maklumat tentang materi pelajaran, tetapi tidak mendapatkan pendidikan terkait baik dan buruk dalam tingkah laku mereka. Anak-anak dijejali aneka materi pelajaran, tetapi mirisnya, mereka tidak dibentuk menjadi orang yang bertakwa. Akibatnya, anak berbuat sesukanya, termasuk melakukan perundungan. Toh, sanksi yang ada tidak menjerakan.

Tontonan yang tidak mendidik, sistem hari ini generasi bebas dengan tontonan yang melalaikan generasi sebagai tonggak peradaban. Mereka asyik dengan dunia bebas sesuai nafsunya. Yang penting hati mereka senang.

Tidak lagi peduli baik buruknya tontonan sehingga pelaku perundungan pun menyasar pada anak dibawah umur, khususnya perempuan, yang notabene perempuan itu ayu lemah lembut, gemulai, namun di sistem sekulerisme tampak perempuan-perempuan bengis, hasil tempahan sistem.

Di Indonesia sendiri kasus perundungan telah menjadi fenomena gunung es di berbagai daerah. Data Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menunjukkan bahwa ada 87 kasus perundungan pada 2023 (RRI, 9-10-2023). Ini adalah kasus yang dilaporkan ke KPAI, sedangkan kasus yang tidak terlapor tentu lebih banyak lagi. Naudzubillah

Tentu maraknya bullying saat ini disebabkan penerapan sistem sekuler yang menuhankan kebebasan. Anak merasa bebas untuk berbuat sesukanya, tanpa ada rasa takut terhadap dosa dan azab neraka. Hal ini tidak akan terjadi dalam sistem Islam.

Aturan Islam Membawa Rahmat

Islam memiliki sistem yang sempurna yang menjamin terbentuknya kepribadian Islam yang mulia baik dilingkungan keluarga, sekolah juga masyarakat . Yang mampu mencegah bullying. Dari sisi pengasuhan, Islam mewajibkan orang tua untuk mendidik anaknya agar menjadi orang yang saleh dan dijauhkan dari azab neraka

Allah Swt. berfirman,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا قُوْٓا اَنْفُسَكُمْ وَاَهْلِيْكُمْ نَارًا وَّقُوْدُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلٰۤىِٕكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَّا يَعْصُوْنَ اللّٰهَ مَآ اَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُوْنَ مَا يُؤْمَرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar dan keras, yang tidak durhaka kepada Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS At-Tahrim: 6)

Sistem ekonomi Islam akan mewujudkan kesejahteraan sehingga meringankan beban orang tua. Tidak ada istilah “kerja keras bagai kuda” hingga melalaikan pendidikan anak. Dengan demikian para orang tua akan bisa menjalankan fungsi pengasuhan dengan optimal. Tidak akan ada anak yang terabaikan karena orang tua terlalu sibuk bekerja. Setiap orang tua paham bahwa anak adalah amanah yang harus dijaga dengan baik.

Pelaku kekerasan akan dihukum dengan sanksi yang menjerakan, sesuai dengan kejahatan yang dia lakukan. Terkait dengan penganiayaan, berlaku hukum kisas, yaitu balasan yang setimpal.

Allah berfirman,

وَكَتَبْنَا عَلَيْهِمْ فِيْهَآ اَنَّ النَّفْسَ بِالنَّفْسِ وَالْعَيْنَ بِالْعَيْنِ وَالْاَنْفَ بِالْاَنْفِ وَالْاُذُنَ بِالْاُذُنِ وَالسِّنَّ بِالسِّنِّۙ وَالْجُرُوْحَ قِصَاصٌۗ

“Kami telah menetapkan bagi mereka di dalamnya (Taurat) bahwa nyawa (dibalas) dengan nyawa, mata dengan mata, hidung dengan hidung, telinga dengan telinga, gigi dengan gigi, dan luka-luka (pun) ada qisas-nya (balasan yang sama).”(QS Al-Maidah: 45).

Setiap pelaku kekerasan yang sudah baligh harus dihukum dengan saksi yang tegas, meski usianya masih di bawah 18 tahun.

Penerapan sistem Islam secara kafah dalam lini kehidupan adalah kunci untuk mencegah perundungan oleh anak. Sistem Islam justru menghasilkan anak-anak saleh yang taat pada Rabb-nya dan bersikap penuh kasih sayang pada sesama.
Wallahua’lam bishshawab.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *