Jumat, 1 Juli 2022

Kritik PSI DKI ke DPP Pertanda ‘Api dalam Sekam’?

Anggota DPRD DKI Jakarta asal PSI Anggara Wicitra Sostroamidjojo. 

Jakarta (Riaunews.com) – Ketua Fraksi PSI DPRD DKI Jakarta Anggara Wicitra Sastroamidjojo menyoroti strategi komunikasi DPP PSI yang kerap tendensius ke Gubernur DKI Anies Baswedan. Sentilan pengurus terhadap PSI pusat ini dinilai ditertawakan oleh banyak orang.

“Pasti banyak yang menertawakan dualisme sikap PSI. Karena selama ini PSI solid kalau urusan serang Anies. Nyatanya tak begitu, PSI Jakarta terlihat keberatan,” ujar Direktur Parameter Politik Indonesia Adi Prayitno saat dihubungi, Senin (2/5/2022).

Adi menilai fenomena itu merupakan tanda PSI pecah. Pasalnya, kejadian di mana pengurus partai provinsi memprotes pengurus pusatnya secara terang-terangan belum pernah terjadi sebelumnya.

“Jelas itu tanda perpecahan antara DPP PSI dan PSI Jakarta. Belum ada sejarahnya di negara ini, pengurus partai provinsi protes terbuka ke pengurus pusat soal sikap politik internal mereka. Baru terjadi pada PSI,” tuturnya.

Adi mengingatkan PSI bahwa kejadian seperti ini bisa sangat berbahaya. Dia turut menyoroti kerja PSI yang hanya mengkritik Anies, tapi menutup mata terhadap permasalahan lain.

“Ini bisa jadi ‘api dalam sekam’ jika tak dikelola dengan baik. Bisa memunculkan gejolak, bahkan konflik, yang lebih besar. Karena PSI selama ini memang hanya sibuk kritik Anies dan menutup mata ke persoalan lain. Kritik Anies harus lanjut, tapi banyak persoalan lain yang juga penting,” jelas Adi.

“Misalnya soal kebijakan politik pemerintah tak pro rakyat, PSI cenderung diam. Muncul nada satir di publik bahwa PSI ini kerjanya hanya ngurus Anies. Tutup mata urusan yang lain,” sambungnya.

Sementara itu, kata Adi, publik mulai sadar bahwa serangan kepada Anies merupakan bagian dari strategi PSI untuk meningkatkan popularitas. Adi menyebut saat ini PSI tengah dibully.

“Publik mulai paham nyerang Anies bagian strategi PSI meningkatkan popularitas dan elektabilitas. PSI sengaja mengambil jarak tegas dengan Anies yang dinilai ‘kanan’, sementara PSI merasa moderat bahkan liberal. Ini strategi keliru karena publik kita tak suka dengan sikap politik yang ekstrem begitu. Alih-alih dapat simpati, PSI malah dibully. Bahwa PSI makin jadi buah bibir itu sulit dibantah, tapi nadanya negatif,” imbuh Adi.

Untuk diketahui, Anggara Wicitra Sastroamidjojo mengaku banyak menerima pertanyaan mengenai strategi komunikasi yang diambil oleh DPP PSI. Menurut Anggara, serangan terhadap Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dianggap ada muatan pribadi.

“Karena di luar itu, tadi saya sudah menceritakan background bahwa masyarakat juga banyak yang bertanya-tanya kenapa PSI langkah seperti ini. Kita hanya fokus pada Pak Anies, kita terlalu tendensi secara pribadi. Jadi menurut saya itu sinyalemen yang harus dijawab dan diklarifikasi oleh teman-teman DPP ya menurut saya,” kata Anggara dalam keterangan tertulisnya, Senin (2/5).

Anggara mengusulkan evaluasi terhadap komunikasi politik yang digunakan oleh PSI selama ini. Dia menganggap strategi yang diambil sering kali menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

“Kalau dari substansi yang tadi saya sampaikan kan memang kita juga merasakan sudah sebaiknya kita mengevaluasi pendekatan komunikasi politik kita. Karena sering kali banyak, ya kayak hal Bro Sigit ini menurut saya kalau kita bisa lebih tidak reaktif melihat sebuah permasalahan, cari dulu data dan faktanya sebelum kita memberikan komentar atau memberikan sikap ke media yang akhirnya bisa menimbulkan potensi polemik di masyarakat. Kan hal-hal ini seharusnya bisa kita lakukan gitu,” terang dia.

Anggara berharap DPP PSI segera mengambil langkah perbaikan. Dia mengatakan PSI harus mampu menggalang simpati publik untuk menghadapi Pemilu 2024.

“Kalau saya sih berharap ada. Apa pun namanya, ada langkah perbaikan karena kita parpol kan nih, menurut saya ya parpol itu harus berhasil memenangkan persepsi dan simpati dari rakyatkan. Nah kalau misalnya kita berada di jalan yang banyak menimbulkan antipati, ya menurut saya harus ada keputusan yang diambil,” tutup Anggara.***

Tinggalkan Balasan