Jumat, 12 Juli 2024

Lembaga Kesultanan Siak Protes Karena Tak Diundang Gubri di Pertemuan Panja Migas

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Istana Siak di Kota Siak Sriindrapura.
Gubernur Riau saat mengunjungi Istana Siak di Kota Siak Sriindrapura.

Pekanbaru (Riaunews.com) – Sejumlah pihak akan melakukan pertemuan dengan Panitia Kerja (Panja) Migas Komisi VII DPR RI di Balai Serindit, hari ini, Selasa (9/3/2021).

Namun, sepertinya Gubernur Riau Syamsuar lupa mengundang Lembaga Kesultanan Siak, sehingga menimbulkan protes.

Generasi ketiga Sultan Syarif Hasyim (Sultan Siak ke XI) H. Tengku Said Muhammad Amin, menyatakan keberatan dan merasa pihaknya tidak dianggap oleh Gubri.

“Padahal pada RDP di DPR RI tanggal 9 Februari lalu, Lembaga Kesultanan Siak juga ikut dan diterima oleh Panja,” kata Tengku Said.

Menurut Tengku Said, Gubri telah abai dan melecehkan Lembaga Kesultanan Siak sebagai zuriyat sah dari Sultan Siak Sri Indrapura. Padahal, katanya, belum ada negeri ini, Kesultanan Siak dengan Istana Asyiriyah sudah tegak berdiri dengan megahnya di Siak Sri Indrapura.

“Belum lagi Sumber Daya Alam yang dikuras di negeri ini pertama kalinya diserahkelolakan oleh Sultan Syarif Kasim pada tahun 1930 kepada NPPM untuk dieksplorasi serta pada tahun 1970 diserahterima dari NPPM kepada PT.Caltex Pacific Indonesia oleh Pewaris Kesultanan Siak Tengku Syed Ibrahim pada saat itu,” ucapnya.

Selama ini, ujar Tengku, pemimpin daerah dalam memperjuangkan hak masyarakat Riau pada umumnya selalu mengeluh dan mengingatkan pemerintah pusat bahwa Kesultanan Siak telah menyumbangkan harta kekayaannya untuk kemerdekaan Indonesia, menguras sumber Daya Alam Riau untuk pusat.

“Tetapi kenyataannya kami dari Zuriat Kesultanan Siak seperti tak dianggap, senyap dibiarkan merayap seperti ada dan tiada,” ketusnya, sebagaimana dilansir Cakaplah.com.

“Riau ini, merupakan bahagian wilayah Kesultanan Siak, patutnya Gubernur Riau ingat hal itu, jangan sejarah dilupakan dan seakan tidak ada. Awas kualat nanti, Orang orang Melayu selalu mengingatkan, ala tanda orang tersesat, membalas budi tiada ingat, apa tanda orang yang malang, tidak mengingat budi orang. Tunjuk ajar di atas sepatutnya lah selalu dicermati dan dipedomani oleh pemimpin negeri saat ini,” tukasnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *