Rabu, 24 Juli 2024

Polisi Usut Dugaan Perambahan Hutan yang Harimau ‘Bertandang’ ke Rumah Warga

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Masih masifnya perambahan hutan di Provinsi Riau untuk kemudian dialihfungsikan menjadi perkebunan, membuat harimau kehilangan rumah dan sering konflik dengan warga. (Foto: mongabay)

Pekanbaru (Riaunews.com) – Polisi memastikan bakal turun mengusut dugaan perambahan hutan yang jadi penyebab konflik warga dan harimau di Bengkalis, Riau. Hal ini mengingat lokasi konflik merupakan habitat asli harimau sumatera.

“Itu ranah kita jika ada unsur pidananya dan pelanggaran UU. Kalau perambahan kita akan cek ke lokasi segera,” terang Dirreskrimsus Polda Riau Kombes Ferry Irawan, Jumat (15/4/2022).

Ferry mengaku telah berkoordinasi dengan BKSDA Riau. Termasuk soal pemasangan box trap atau kandang jebak guna evakuasi harimau dari daerah konflik.

“Sudah kita sampaikan BKSDA kemarin dan mereka pasang boxtrap di lokasi,” kata Ferry.

Sebelumnya, masyarakat di Bengkalis, Riau dibuat geger karena munculnya harimau di sekitar perkampungan. Balai BKSDA Riau menilai lokasi munculnya harimau adalah kawasan hutan lindung yang sudah dirambah.

Balai BKSDA terpaksa memutuskan untuk mengevakuasi harimau itu dari habitat aslinya, karena berpotensi besar konflik dengan manusia. Evakuasi harimau dari rumahnya sendiri itu diklaim sebagai upaya penyelamatan.

“Lokasi itu adalah kawasan hutan. Lokasi hutan itu dirambah, mereka habisi rumah harimau di sana,” terang Plt Kepala Balai BKSDA Riau, Fifin Afriana.

Fifin menyebut di daerah itu juga sedang berlangsung perambahan hutan. Sebab, ada kawasan hutan yang sedang dibabat untuk alih fungsi menjadi perkebunan di cagar biosfer Giam Siak Kecil, Bengkalis tersebut.

“Di sana juga ada yang sedang membuka lahan. Kebakaran hutan memang terus terjadi di sana dan pasti akan jadi kebun. Jadi di sana hanya pondok-pondok orang kerja saja, bukan pemiliknya,” imbuh Fifin.

Fifin mengaku terpaksa memutuskan upaya evakuasi harimau. Sebab, lokasi yang kini menjadi konflik adalah habitat asli harimau sumatera.

“Sebenarnya ini ironi, kami harus lakukan upaya evakuasi harimau di rumah sendiri. Padahal kita harus selamatkan keduanya, kami berharap ini jadi pelajaran bersama,” kata Fifin.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *