Sabtu, 1 Oktober 2022

Puncak Helat LAMR Dihadiri Gubri dan Wagubri

Gubri Drs H Syamsuar MSi saat menyampaikan kata sambutan pada helat puncak LAMR/istimewa

PEKANBARU (RiauNews.com)-Secara bersamaan, Gubernur Riau H Syamsuar, MSi, dan Wakil Gubernur Riau Brigjen TNI (Purn) Eddy Natar Nasution, menghadiri puncak helat yang diselenggarakan Lembaga Adat Melayu Riau (LAMR), Selasa malam (9/8/2020) di Balai Adat Melayu Riau Jalan Diponegoro Kota Pekanbaru.

Selain itu juga terlihat Danlanud Roesmin Nurjadi Marsma TNI Ian Fuady dan unsur Forum Komunikasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) lainnya, pendiri LAMR O.K Nizami Jamil,  Ketua FKPMR DR H Chaidir MM, sejumlah masyarakat adat dan rumpun organisasi lasyakar dan pemuda Melayu.

Helat LAMR itu sendiri merangkum tiga kegiatan yakni Hari Besar Islam 1444 H, 65 Tahun Provinsi Riau, dan Hari Masyarakat Adat Sedunia. Hari besar Islam berupa tahun baru sudah 11 hari dilalui, sedangkan peringatan 65 tahun Provinsi Riau dan Hari Masyarakat Adat Sedunia jatuh pada hari bersamaan yakni 9 Agustus 2022.

Berkaitan dengan hal itu, berbagai kegiatan dilaksanakan yakni togak tonggul, peragaan silat tiga bulan, musik gazal, doa selamat, tausyiah, dan ratib togak. Kegiatan diawali dengan pemotongan sapi hari Senin yang dagingnya telah disantap bersama-sama hari Selasa.

Kesemua kegiatan mengandung nilai ilahiah dan duniawiyah untuk memuliakan manusia. Dalam konteks kebangsaan pula, tiga materi kegiatan ini telah mendapat status Warisan Budaya Tak Benda Indonesia yakni togak tonggul, silat tiga bulan, dan ratib togak, di antara 56 WBTB yang telah diperjuangkan Dinas Kebudayaan dalam beberapa tahun terakhir.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian (Ketum DPH) LAMR, Datuk Seri Drs H Taufik Ikram Jamil, MIKom mengatakan, kegiatan itu didukung oleh berbagai pihak, di antaranya adalah Pemprov Riau, LAMR Kampar, BUMD Pelalawan, bahkan simpul-simpul lasykar maupun pemuda Melayu Riau. “Tak kecil pula rasa terima kasih kepada kawan-kawan pengurus LAMR yang telah bertungkus-lumus menyiapkan acara ini,” katanya.

Dalam amanahnya, Gubernur Riau yang juga Datuk Seri Setia Amanah Masyarakat Melayu Riau mengatakan, masyarakat Riau memang harus memperbanyak syukur karena daerah ini dilimpahi berbagai kekayaan material dan spiritual. “Banyak orang sholeh bahkan keramat di berbagai kabupaten/ kota,” katanya seraya menambahkan, keadaan tersebut harus senantiasa dipelihara sehingga keberkahan terus mengalir di daerah ini.

Riau lanjut Gubri, dikenal dengan ciri khas budaya Melayu, kebudayaan ini juga dipengaruhi oleh budaya umat Islam. Itulah mengapa Melayu tidak bisa dipisahkan dengan Islam.  Harga diri Melayu akan tetap terpelihara jika masyarakat di Negeri Riau menjaga dengan baik marwah Melayu.

Terlebih lagi bagi kalangan anak muda, hendaknya budaya Melayu lebih menjati diri sehingga anak milenial tidak buta akan budaya Melayu dan sejarah Riau. Gubernur Riau (Gubri) Syamsuar mengajak seluruh masyarakat Riau untuk memelihara atau menjaga marwah Melayu.

Menurut Gubri, kalaulah marwah sendiri tidak bisa dijaga, orang lain tidak akan segan dan  menghormati.

“Perlu kita jaga negeri (Riau) ini, yaitu marwah Melayu harus kita pelihara, karena kalau marwah tidak terpelihara orang tidak akan segan kepada kita,” kata Gubri.

Untuk itu, Gubri mengingkan dan mengajak seluruh masyarakat Riau agar menanamkan merasa memiliki negeri Riau yang mempunyai banyak keberkahan.

“Riau negeri yang berkah, perlu kita jaga negeri ini,” ajak Gubri.

Hal serupa juga disampaikan Ketua Umum Majelis Kerapatan Adat (MKA) LAM Riau Marjohan Yusuf, sebagai negeri yang memiliki banyak keberkahan didalamnya, Riau perlu dipelihara dan dirawat, sehingga semakin banyak keberkahan yang didatangkan sang pencipta ketanahah Melayu Riau.

“Negeri kita adalah negeri yang berkah untuk itu kita harus memeliharanya,” pungkas Marjohan Yusuf.

Datuk Seri Marjohan Yusuf dan penceramah Dr Zul Ikrami Lc MA menambahkan, Melayu menidentikkan dirinya dengan Islam. Cara menghormati keturunan Rasulullah tidak saja memuliakan pengajian yang mereka lalukan, bahkan menjadikan mereka pemimpin seperti terlihat pada Kerajaan Siak dan Pelalawan.

Oleh karena itu, kata Zul Ikrami, beraktivitas di daerah ini, juga dapat bermakna mengikuti jejek sejumlah keturunan Rasulullah SAW. Jadi, dia tidak akan tinggalkan daerah ini karena ada sesuatu yang bernilai sunnah dan dilaksanakan dalam aktivitas keseharian.

 

Tinggalkan Balasan