Rabu, 10 Agustus 2022

Blunder PDIP yang Mengaku Partai Wong Cilik: Megawati di Antara Minyak Goreng, Tukang Bakso, dan Kecerobohan Komunikasi Politik

Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri beberapa melakukan blunder, yakni pernyataannya yang dianggap menyinggung wong cilik.

Jakarta (Riaunews.co.) – PDI-P beberapa waktu belakangan mendapatkan sorotan publik karena pernyataan Ketua Umumnya, Megawati Soekarnoputri.

Megawati yang kerap melabeli partainya sebagai partai wong cilik (rakyat kecil dalam bahasa Jawa) justru kerap melontarkan pernyataan yang bertolak belakang dengan titel itu.

Pernyataan-pernyataan itu ia sampaikan di forum terbuka dan menjadi konsumsi publik.

Ada dua pernyataan kontroversial Megawati yang masih diingat oleh publik. Pertama soal minyak goreng dan yang kedua terkait tukang bakso.

Megawati soal minyak goreng

Beberapa bulan lalu, Megawati Soekarnoputri menyarankan masyarakat untuk merebus atau mengukus makanan sebagai solusi kelangkaan minyak goreng.

Hal ini disampaikan Megawati ketika masyarakat tengah kesulitan memperoleh minyak goreng di pasaran. Pernyataan Megawati itu pun mendapat cibiran dari masyarakat.

Megawati disorot atas pernyataannya. Ia mengaku heran melihat ibu-ibu rela mengantre berjam-jam demi membeli minyak goreng.

Ia juga mempertanyakan kebiasan para ibu-ibu Indonesia yang terlalu banyak menggoreng.

“Saya sampai mengelus dada, bukan urusan masalah nggak ada atau mahalnya minyak goreng, saya sampai mikir, jadi tiap hari ibu-ibu itu apakah hanya menggoreng sampai begitu rebutannya?” kata Megawati dalam webinar yang disiarkan Youtube Tribunnews, Jumat (18/3/2022).

Padahal, menurut Mega, masih banyak cara untuk membuat makanan selain menggoreng. Misalnya dengan direbus atau dikukus.

“Apa tidak ada cara untuk merebus, lalu mengukus, atau seperti rujak, apa tidak ada? Itu menu Indonesia lho. Lha kok njelimet (rumit) gitu,” imbuh Megawati.

Sebulan kemudian, lagi-lagi Megawati berbicara soal antrean minyak goreng.

Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) itu mengaku bingung dengan maraknya warga yang mengantre lama untuk mendapatkan minyak goreng ketika terjadi kelangkaan.

Pasalnya, di saat bersamaan, ibu-ibu juga berbondong-bondong belanja ke pasar untuk membeli baju baru.

“Saya lihat di pasar-pasar sekarang akibat sudah dilepaskannya PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat), ibu-ibu berbondong-bondong beli baju baru dan sebagainya. Padahal, di sisi lain bingung, mereka antre minyak goreng,” kata Megawati dalam acara Kick Off Pembentukan Brida yang ditayangkan secara virtual, Rabu (20/4/2022).

Direktur Eksekutif Lembaga Survei KedaiKOPI, Kunto Adi Wibowo, menilai bahwa komunikasi politik Megawati terkait pernyataan ini cenderung ceroboh.

Tak heran jika rakyat merasa tersakiti atas pernyataan Mega, sebab masyarakat di berbagai daerah berbulan-bulan dalam kondisi sulit akibat kelangkaan dan mahalnya harga minyak.

“Komunikasi politik Bu Mega ini agak ceroboh karena pertama kondisi masyarakat sedang susah,” kata Kunto kepada Kompas.com, Ahad (20/3/2022).

Kunto menilai, gaya komunikasi Mega ini menunjukkan adanya diskrepansi atau gap yang besar antara elite politik dengan kalangan akar rumput.

Rupanya tak seluruh elite politik menganggap kisruh minyak goreng sebagai masalah prioritas, sementara bagi publik persoalan ini sangat mendasar.

“Ini yang menurut saya jadi problem. Berarti ada saluran komunikasi, saluran aspirasi dari bawah ke atas yang mandek,” ujar Kunto.

Gurauan soal tukang bakso

Terkini, Megawati disoroti lantaran ucapannya soal tukang bakso.

Hal itu terjadi pada saat rapat kerja nasional (Rakernas) kedua PDI-P tahun 2021 dibuka Selasa (21/6/2022) di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan.

Mulanya, Megawati menceritakan soal gurauannya kepada ketiga anaknya saat akan mencari jodoh.

Iya terang-terangan meminta anak-anaknya agar tidak mencari pasangan yang berprofesi sebagai tukang bakso.

“Jadi ketika saya mau punya mantu, saya sudah bilang ke anak-anak yang tiga ini. Awas lho kalau nyarinya kayak tukang bakso,” ujar Megawati saat berpidato dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) II PDI-P Tahun 2021 di Sekolah Partai, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Selasa.

“Jadi maaf, tapi bukannya saya apa. Maksud saya, manusia Indonesia ini kan Bhinneka Tunggal Ika. Ya maka harus berpadu. Bukan hanya tubuh dan perasaan, tetapi juga dari rekayasa genetika. Kita cari-cari begitu,” kata dia.

Tak melanjutkan pernyataan itu, Megawati lantas beralih ke persoalan kawin campur.

Presiden ke-5 RI itu menekankan agar kawin campur mestinya bisa dilakukan masyarakat Indonesia yang terdiri dari berbagai suku.

Dia lantas mencontohkan dirinya sendiri yang merupakan anak biologis dari perkawinan antarsuku.

Pengamat politik dari Universitas Paramadina, Ahmad Khoirul Umam berpandangan bahwa pernyataan Megawati yang bergurau soal tukang bakso dapat berimbas pada merosotnya elektabilitas PDI-P.

Sebab, jargon “partainya wong cilik” yang selama diusung oleh PDI-P dapat dipandang sebagai gimik semata.

Hal ini karena pernyataan Megawati yang dianggap merendahkan wong cilik.

“Jika kekeliruan ini terus berlanjut dan bertubi-tubi, tidak menutup kemungkinan akan menghadirkan koreksi elektabilitas bagi PDI-P,” kata Umam saat dihubungi Kompas.com, Kamis (23/6/2022).

“Karena jargonnya sebagai partainya wong cilik seolah hanya sebatas gimik semata yang tidak dibuktikan oleh keberpihakannya terhadap rakyat kecil,” ujar Umam.

Menurutnya, gurauan Megawati pada pembukaan Rakernas PDI-P itu tidak tepat disampaikan oleh seorang ketua umum partai politik besar.

Ia mengatakan, pernyataan itu menunjukkan Megawati tidak memiliki sensitivitas sosial terhadap nasib wong cilik.

“Guyonan itu seolah meletakkan ‘tukang bakso’ sebagai kelompok sosial rendahan tak layak hidup dalam lingkup keluarganya, hingga layak ditertawakan dalam candaan para elite politik dalam forum internal partainya tersebut,” tuturnya.***

Tinggalkan Balasan