Senin, 8 Agustus 2022

Budayawan Sunda Anggap Arteria Dahlan Rasis: Mengapa yang Berbahasa Inggris Tidak Dikritik?

Politisi PDIP, Arteria Dahlan
Politisi PDIP, Arteria Dahlan.

Jakarta (Riaunews.com) – Budayawan Sunda Budi Dalton mengkritik ucapan anggota Komisi III DPR, Arteria Dahlan yang minta Kejati dipecat karena berbahasa Sunda dalam rapat.

Budi Dalton menganggap, ucapan Arteria adalah rasis.

“Percuma rakyat euy menggembar-gemborkan toleransi, lalu persatuan, wakil rakyat-na rasis kitu,” kata Budi Dalton dikutip Fajar.co.id dari unggahan Instagramnya, Rabu (19/1/2022).

Dosen di Fakultas Ilmu Seni dan Sastra (FISS) Universitas Pasundan itu membandingkan dengan bahasa lain. Kata Budi, mengapa orang yang berbahasa Indonesia dan menyelipkan bahasa Inggris tidak ia kritik.

Justru orang yang berbahasa Indonesia dan menyelipkan bahasa Sunda yang merupakan bahasa dari Indonesia sendiri dikritik. Malahan ia meminta Kejati yang tak ia sebut namanya itu dipecat, karena memakai bahasa Sunda.

“Lagi pula di dalam sebuah rapat itu juga banyak yang menggunakan istilah bahasa Inggris, bahasa daerah lainnya. Tentunya tidak keseluruhan rapat itu berbahasa Sunda, saya yakin. Tapi pada saat idiom sunda itu muncul dikritik kalau yang berbahasa lain tidak,” jelas budayawan Sunda ini.

Terkait dengan ucapan meminta Kejati yang ia maksud untuk dipecat hanya karena permasalahan bahasa, Budi anggap Arteria Dahlan berhati-hati dalam berucap di muka publik.

“Lagipula kalau kritik memang tidak apa-apa, tapi inilah malah minta diganti katanya. Jangan-jangan ini mah by order. Jangan lupa Anda itu wakil rakyat,” tandasnya.

Sebelumnya, Wakil Ketua Komisi IV DPR, Dedi Mulyadi merasa tersinggung atas ucapan Anggota Komisi III DPR, Arteria Dahlan, yang minta mengganti Kejati hanya persoalan pemakaian bahasa Sunda.

Dedi Mulyadi sebagai tokoh Sunda sudah pasti tak terima dengan ucapan Arteria. Sebenarnya, menurut Dedi, pemakaian bahasa Sunda dalam keseharian itu tak masalah.

“Wajar saja dilakukan selama yang diajak rapat, yang diajak diskusi, mengerti bahasa daerah yang digunakan sebagai media dialog pada waktu itu,” tulis Dedi di unggahan Instagramnya, dikutip.***

Tinggalkan Balasan