Kamis, 18 Juli 2024

Cerita di Balik Foto Ikonik Pemuda Palestina Bawa Bendera dan Katapel

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Foto Aed Abo Amro menjadi viral dan menjadi ikon perlawanan Palestina terhadap Israel. (Foto: Mustafa Hassona)

Gaza (Riaunews.com) – Serangan Israel ke Gaza, Palestina yang meningkat sejak 7 Oktober 2023 memicu aksi protes dan perlawanan dari berbagai pihak.

Di media sosial X (dulu Twitter), foto sosok pemuda bertelanjang dada dengan bendera Palestina berkibar di tangan kanan dan senjata menyerupai katapel di tangan kiri kembali viral.

Foto tersebut merupakan hasil karya Mustafa Hassona saat memotret pengunjuk rasa di Jalur Gaza pada 22 Oktober 2018 silam.

“Pria di foto ini, Aed Abo Amro, dikecam IDF (Pasukan Pertahanan Israel) hanya sebulan setelah foto ini viral karena menjadi simbol perlawanan,” tulis akun @regrttes, Kamis (9/11/2023).

“Jangan pernah lupa bahwa Ahed Tamimi, Plestia, dan setiap warga Palestina yang menentang Israel di depan umum adalah pahlawan sejati yang menghadapi risiko,” lanjutnya.

Dilansir Kompas, hingga Jumat (10/11/2023) siang, unggahan ini telah dilihat lebih dari 6,9 juta kali, disukai 213.000 pengguna, dan diunggah ulang oleh lebih dari 87.000 warganet.

Lantas, bagaimana kisahnya?

 

Foto diambil di tengah aksi protes warga Palestina

Dilansir dari Another Man Magazine, Kamis (18/4/2019), Aed Abu Amro baru berusia 20 tahun saat jurnalis foto Mustafa Hassona mengabadikan fotonya di Gaza pada Senin (22/10/2018).

Foto itu viral, dan bahkan banyak yang menyamakan dengan lukisan ikonik Revolusi Perancis karya Eugene Delacroix, Liberty Leading the People pada 1830.

Hassona, yang berasal dari Jalur Gaza, merupakan seorang fotografer di kantor berita Anadolu Agency.

Dia secara teratur mengunjungi daerah tersebut untuk meliput aksi protes mingguan dan beberapa kali mengalami kekerasan secara langsung.

“Warga Gaza pergi ke daerah perbatasan untuk memprotes pengepungan Israel,” jelasnya melalui email kepada Another Man.

Menurutnya, puluhan orang datang setiap minggu untuk melakukan protes pencabutan blokade Israel di Gaza dengan berbagai cara, termasuk membakar ban dan membawa bendera Palestina.

“Pria di foto itu berdiri di depan saya, jadi saya mengambil fotonya. Saya tidak berbicara dengannya,” ungkapnya.

 

Gambaran perjuangan rakyat Palestina

Kala itu, pengunjuk rasa yang mayoritas merupakan warga sipil Palestina telah berkumpul di sepanjang zona perbatasan Gaza-Israel sejak 30 Maret 2018.

Mereka melakukan demonstrasi menuntut hak untuk kembali ke rumah dan tanah Palestina, tempat keluarga mereka diusir 70 tahun lalu.

Mereka juga menuntut diakhirinya blokade Jalur Gaza oleh Israel, yang telah menghancurkan perekonomian wilayah pesisir tersebut dan merampas banyak komoditas pokok bagi dua juta penduduknya.

Pasukan Israel membalas dengan gas air mata dan tembakan tajam yang menewaskan dan melukai ratusan orang.

Saat Hassona mengambil gambar ikonik tersebut, tercatat sejumlah 32 warga Palestina terluka.

Foto yang masuk dalam serial bertajuk Palestinian Right of Return Protests itu pun mendapat penghargaan dalam ajang Sony World Photography Awards pada 2019.

Terlepas dari fotonya yang viral, Hassona mengatakan, semua gambar terasa mendesak dan nyata karena dia berada di sana di tengah kekacauan.

Hassona juga percaya bahwa foto ini telah mendapat banyak perhatian karena menggambarkan pesan yang ingin disampaikan oleh orang-orang Palestina kepada dunia.

“Dari sudut pandang saya, gambar tersebut adalah gambaran sebuah bangsa yang telah menderita selama beberapa dekade,” ujarnya.

Dia mengaku ingin menggambarkan kekuatan dan ketabahan rakyat Palestina saat mereka terus berjuang demi kebebasan.

“Rakyat Palestina berjuang dan menderita karena mereka mencintai tanah mereka dan tidak akan pernah menyerah pada impian untuk membebaskannya suatu hari nanti,” ungkapnya.

“Saya ingin dibungkus dengan bendera yang sama”

Di sisi lain, sosok Aed Abu Amro yang terpotret apik dalam kamera Hassona mengalami luka di bagian kaki karena peluru tajam saat menyerukan protes di perbatasan utara Gaza.

Dikutip dari pemberitaan Aljazeera, Selasa (6/11/2018), Abu Amro mengaku rutin menyerukan protes setiap Jumat dan Senin bersama teman-temannya.

Pemuda ini mengaku tidak pergi protes hanya untuk diabadikan dalam sebuah foto. Namun, viralnya foto tersebut mendorong Abu Amro untuk terus berdemonstrasi.

“Kalau saya terbunuh, saya ingin dibungkus dengan bendera yang sama. Kami menuntut hak kami untuk kembali, dan memprotes martabat kami dan martabat generasi masa depan kami,” kata Abu Amro kepada Al Jazeera.

Adapun sejak demonstrasi Great March of Return dimulai pada 30 Maret 2018, lebih dari 200 warga Palestina telah terbunuh dan ribuan lainnya terluka di sepanjang perbatasan Gaza-Israel.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *