Rabu, 24 Juli 2024

Hakim PN Pekanbaru Murka, Terdakwa Penggelapan Uang Nasabah Rp84,9 Miliar Dibantarkan Pihak Rutan ke RS Tanpa Izin

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Pengadilan Negeri Pekanbaru.

Pekanbaru (Riaunews.com) – Sidang perkara dugaan penggelapan uang nasabah senilai Rp84,9 miliar kembali digelar di Pengadilan Negeri (PN) Pekanbaru, Senin (27/12/2021).

Majelis hakim yang menyidangkan dengan terdakwa anggota keluarga konglomerat Salim, selaku petinggi PT Wahana Bersama Nusantara (WBN) dan PT Tiara Global Propertindo (PT TGP) company profil Fikasa Grup, marah ke pihak Rutan Klas I A Pekanbaru. Hal ini karena salahsatu terdakwa yakni Agung Salim tanpa izin hakim dibantarkan ke RSUD Arifin Achmad.

Dilansir cakaplah.com, kemarahan majelis hakim yang dipimpin Dahlan ini berawal ketika dia menanyakan kepada Jaksa Penuntut Umum (JPU) Herlina, tentang kehadiran empat terdakwa yakni Agung Salim selaku Komisaris Utama (Komut) PT WBN, Elly Salim selaku Direktur PT WBN dan Komisaris PT TGP dan Christian Salim selaku Direktur PT TGP.

Saat itu, jaksa menjelaskan kalau terdakwa Agung tidak datang dikarenakan sedang dirawat di RSUD Arifin Achmad.

Namun kata jaksa, jika pihak Rutan tidak ada mengajukan permohonan izin bantar berobat terdakwa Agung kepada majelis hakim. Jaksa kemudian meminta pertimbangan hakim.

“Izin majelis hakim, dalam hal Ka Rutan mengeluarkan tahanan tanpa izin majelis hakim. Kami mohon pertimbangan majelis hakim agar kami dapat menghadirkan dokter pembanding untuk melakukan pemeriksaan terhadap terdakwa Agung Salim,” ucap Herlina.

Mendengar keterangan jaksa itu, hakim Dahlan tanpak murka. Dia menilai tidak beradanya terdakwa di Rutan itu bukan tanggungjawab hakim.

“Karena tidak ada surat permohonan untuk pengobatan keluar (Rutan). Jadi prosedur hukum acaranya telah dilanggar oleh Rutan,” ucap Dahlan.

Lalu, hakim memerintahkan jaksa selaku eksekutor untuk menindaklanjuti permasalahan ini. Hakim juga meminta jaksa untuk mencari dokter pembanding.

“Jika ini tidak benar, ada kebohongan di sini, silahkan proses pidana. Siapa saja yang terlibat di sini, yang memberikan keterangan bohong, proses pidana,” tegas hakim Dahlan.

Kata Dahlan, surat pemberitahuan ke majelis hakim tidak ada. “Kayak hukum rimba sudah. Terdakwa dimana majelis hakim pun tak tahu,” lanjutnya.

Saking kesalnya, Dahlan yang didampingi hakim Anggota Estiono dan Tomy Manik kemudian meminta pihak petugas Rutan hadir dalam persidangan secara teleconference itu.

Setelah beberapa saat, akhirnya Kasi Pelayanan Rutan Klas I A Pekanbaru, Agus, hadir dalam teleconference itu. Dia mengakui, jika pihaknya tidak ada mengajukan permohonan bantar ke majelis hakim dan hanya surat pemberitahuan.

“Kami sudah berkoordinasi dengan jaksa. Kami juga sudah memberikan surat pemberitahuan ke pengadilan,” jelasnya.

Mendengar penjelasan itu, Dahlan semakin emosi. Pasalnya, tindakan yang dilakukan Rutan itu tidak sesuai dengan KUHAP.

Hakim meningatkan pihak Rutan untuk bekerja sesuai aturan hukum yang berlaku. Karena, jika terdakwa itu lari saat berada di rumah sakit tentu akan menjadi tanggung jawab Rutan dan bukan majelis hakim.

Untuk diketahui, sidang ini mendengarkan keterangan saksi. Namun karena terdakwa tidak lengkap, akhirnya majelis hakim menunda sidang hingga satu pekan mendatang.

Para terdakwa diajukan ke pengadilan karena didakwa melakukan dugaan penggelapan uang nasabah senilai Rp84,9 miliar. Sedikitnya, ada 10 nasabah yang merupakan warga Kota Pekanbaru yang menjadi korban para terdakwa.

Akibat perbuatannya itu, JPU menjerat para terdakwa dengan Pasal 46 Ayat (1) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan Jo Pasal 64 Ayat (1) Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana, Pasal 378 Jo Pasal 64 Ayat (1) Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana, Pasal 372 Jo Pasal 64 Ayat (1) Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana dan Pasal 372 Jo Pasal 64 Ayat (1) Jo Pasal 55 Ayat (1) ke-1 KUHPidana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *