Selasa, 6 Desember 2022

‘Hanya’ Diguncang Gempa dengan Magnitudo 5,6, Kenapa Banyak Kerusakan dan Korban di Cianjur?

Warga Cianjur berjalan di antara puing rumahnya yang rubuh akibat gempa, berusaha menyelamatkan barang-barang berharga yang masih tersisa. (Foto: Detik)

Jakarta (Riaunews.com) – Tanah yang berada di kawasan gempa Cianjur rawan goncangan. Permukiman pun kebanyakan tak tahan gempa. Kombinasi itu diduga membuat banyaknya kerusakan dan korban jiwa.

Sebelumnya, bencana gempa menimpa wilayah Cianjur dan sekitarnya pada Senin (21/11/2022) pukul 13.21 WIB. Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengungkap korban jiwa mencapai 162 jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sukabumi mengungkap ratusan rumah rusak.

Menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa dengan kekuatan magnitudo M 5,6 terletak di darat pada koordinat 107,05 BT dan 6,84 LS, berjarak sekitar 9,65 km barat daya Kota Cianjur atau 16,8 km timur laut Kota Sukabumi.

Dikutip dari CNN Indonesia, Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral mengungkapkan morfologi wilayah pusat gempa di kawasan Cianjur tersebut pada umumnya berupa dataran hingga dataran bergelombang, perbukitan bergelombang hingga terjal yang terletak pada bagian tenggara gunung api Gede.

Wilayah tersebut secara umum tersusun oleh endapan Kuarter berupa batuan rombakan gunung api muda (breksi gunung api, lava, tuff) dan aluvial sungai. Sebagian batuan rombakan gunung api muda tersebut juga telah mengalami pelapukan.

“Endapan Kuarter yang menyusun wilayah ini pada umumnya bersifat lunak, lepas, belum kompak (unconsolidated) dan memperkuat efek guncangan, sehingga rawan gempa bumi,” demikian dikutip dari vsi.esdm.

Selain itu, morfologi perbukitan bergelombang hingga terjal yang tersusun oleh batuan yang telah mengalami pelapukan juga berpotensi terjadi gerakan tanah yang dapat dipicu oleh guncangan gempa bumi kuat dan curah hujan tinggi.

Berdasarkan posisi lokasi pusat gempa bumi, kedalaman dan data mekanisme sumber dari BMKG dan GeoForschungsZentrum (GFZ) Jerman, kejadian gempa bumi ini diakibatkan oleh aktivitas sesar aktif.

Sesar aktif tersebut hingga kini belum diketahui dengan baik karakteristiknya dan lokasinya berada pada bagian timur laut zona sesar Cimandiri.

Lebih lanjut, Badan Geologi menyebut bencana gempa bumi yang menimpa Cianjur ini berpotensi mengakibatkan terjadinya bahaya sesar permukaan dan bahaya ikutan (collateral hazard) berupa retakan tanah, penurunan tanah, gerakan tanah dan likuefaksi.

Terpisah, Koordinator Bidang Mitigasi Gempabumi dan Tsunami Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Daryono mengungkap Cianjur adalah salah satu wilayah rawan gempa.

“Wilayah Sukabumi, Cianjur, Lembang, Purwakarta, kawasan seismik aktif. Kawasan ini memang sering terjadi gempa,” kata dia, via pesan singkat.

Menurutnya, kawasan ini merupakan daerah jalur gempa karena memiliki banyak sesar, di antaranya sesar Cimandiri, sesar Lembang, “dan masih banyak sesar-sesar minor di wilayah tersebut.”

BMKG, kata Daryono, juga mencatat gempa di daerah ini sudah terjadi sejak zaman Belanda. Paling tidak, ada tiga gempa yang merusak saat era kolonial.

Yakni, gempa 1884, gempa 1910 di Cianjur dan sekitarnya, “Kemudian [gempa] 1912, ada banyak kerusakan di Cianjur dan Sukabumi, kemudian 1968 banyak rumah roboh.”

“1982, gempa 5,5 mengakibatkan banyak sekali kerusakan dan korban jiwa. Kemudian 12 juli (tahun) 2000 ini kekuatan 5,1 menyebabkan lebih dari 500 rumah rusak berat. Kemudian 14 November lalu ada 3 gempa terjadi berurutan 4,1, 4,3,….itu terjadi di Danau Cirata,” lanjut Daryono.

Sebab kerusakan
Gempa tersebut sepintas berkekuatan di bawah Magnitudo 5. Namun, menurut Daryono, tak perlu gempa berkekuatan besar untuk menimbulkan kerusakan di kawasan tersebut.

Ia pun mengungkap sejumlah faktor yang membuat gempa M 5,6 sangat merusak di Sukabumi dan Cianjur:

  1. Kedalaman gempa yang dangkal.

  2. Struktur bangunan tidak memenuhi standar aman gempa.

  3. Lokasi permukiman berada pada tanah lunak (local site effect-efek tapak) dan perbukitan (efek topografi).

Menurut Daryono, perlu ada kajian komprehensif untuk membaca peta kerawanan kawasan ini. “Penting identifikasi sumber gempa, dalam hal ini jalur sesar aktif. Kemudian perlu ada kajian gempa bumi komprehensif, agar bisa baca tingkat kerawanan di situ,” kata Daryono.

Sebelumnya, gempa dengan Magnitudo 5,6 terjadi di daerah Cianjur dan sekitarnya akibat gerak sesar Cimandiri.

“Jadi gempa yang terjadi ini gempa tektonik yang pusat gempanya posisinya dan kedalaman gempa serta kekuatanya berada pada patahan Cimandiri,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati, Senin (21/11).***

Tinggalkan Balasan