Sabtu, 1 Oktober 2022

Kompas Beritakan Koruptor dengan Gambar Anies Baswedan, Pengamat: Framingnya Kasar

Kompas dinilai telah memframing Anies Baswedan karena menampilkan fotonya dengan berita terkait korupsi.

Jakarta (Riaunews.com) – Pakar komunikasi politik dari Kedai Kopi Hendri Satrio menyayangkan penayangan foto yang menampilkan Anies Baswedan di Gedung KPK dalam artikel berjudul “Korupsi Bukan Lagi Kejahatan Luar Biasa”, di rubrik Politik dan Hukum Harian Kompas, Kamis (8/9/2022).

“Ini menunjukkan ketidakobjektivan Kompas. Semestinya 23 koruptor itu yang dipasang, bukan (Anies) sendirian seperti itu,” katanya kepada KBA News.

Upaya penjegalan untuk berlaga dalam Pilpres 2024 kian tidak sehat dilakukan kelompok-kelompok tertentu akhir-akhir ini, di tengah kesuksesan Anies memimpin Jakarta dengan segudang prestasi.

Baca Juga: Firli Bantah Pemeriksaan Anies Ada Unsur Politis

Foto yang ditampilkan Harian Kompas itu pun diduga sebagai bagian dari gerakan kelompok tertentu untuk menciptakan persepsi buruk di tengah masyarakat.

“Kok framing-nya kasar begitu?” ujar pakar hukum sekaligus mantan Wakil Menteri Hukum dan HAM Denny Indrayana.

Sebelumnya, pakar komunikasi Universitas Islam 45 Bekasi Tatik Yuniarti mengatakan, “Kalau saya baca secara keseluruhan artikel itu, berita tentang Pak Anies sebenarnya hanya berita tambahan saja. Berita bahwa Pak Anies dipanggil KPK untuk memberikan keterangan terkait penyelidikan dugaan korupsi perhelatan Formula E. Kenapa tidak gambar dari ke-23 koruptor itu yang dimasukkan dalam frame Kompas?”

Dari sisi framing, lanjut Tatik, ada opini yang terbangun dari situ. Opini yang akan muncul ketika masyarakat melihat berita tersebut, seolah-olah Anies termasuk orang yang terlibat dalam kegiatan tindakan korupsi yang terjadi dalam penyelenggaraan Formula E.

“Padahal, ini baru tahap penyelidikan dengan masih saksi-saksi dihadirkan. Meskipun kita sudah tahu beberapa waktu lalu pernah juga Pak Anies sebenarnya memberikan keterangan dengan sejelas-jelasnya tentang bagaimana Formula E ini diselenggarakan, termasuk aliran anggarannya seperti apa,” tutur dia.

Dari sisi komunikasi, jelas gambar yang disajikan itu akan sangat memberikan frame ke publik sebuah pertanyaan atau menduga apakah benar Anies terlibat di situ dan seberapa besar perannya dalam kasus Formula E yang sedang diselidiki.

Baca Juga: Usai Diperiksa KPK 11 Jam, Anies Baswedan Irit Bicara pada Wartawan

“Nah, ini menjadi panas karena kita memang akan mendekati tahun politik, di mana Pak Anies menjadi salah satu tokoh yang kemungkinan besar dicalonkan sebagai Presiden,” ujar Tatik.

Begitu pun dari sisi politik, ketika gambar ini dimunculkan, opini publik akan terbentuk. Penggiringan opini itu akan memengaruhi persepsi masyarakat terhadap seorang tokoh, dalam hal ini Anies Baswedan.

“Nah ini mungkin yang diinginkan oleh beberapa kelompok politik tertentu agar (Anies) tokoh yang relatif bersih ternyata memiliki track record yang buruk. (Anies) yang selama ini dielu-elukan, sekarang persepsi publik kepadanya akan menjadi turun,” katanya. ***

Satu komentar

  1. Kompas sudah ngga seperti dulu lagi, objektive, berimbang tp sekarang sudah berpolitik…sayang dan saya pribadi sudah tidak respek.lagi

Tinggalkan Balasan