Kamis, 18 Juli 2024

Lagi Rame di X, Kemenhan Disebut Belum Bayar Helikopter Mi-2 Rusia Senilai Rp22,5 miliar

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Kementerian Pertahanan RI disebut belum membayar helikopter Mi-2 asal Rusia ke perusahaan pengadaan. (Foto: X)

Pekanbaru (Riaunews.com) – Seorang netizen dengan nama akun X @NiBapakLoe meminta Menteri Pertahanan RI Prabowo Subianto, sebagai perwakilan Kementerian Pertahanan, untuk membayar Helikopter Mi-2 dari Rusia.

Menurutnya, helikopter itu telah dibeli Kementerian tersebut pada 2002, kepada agen pengadaan helikopter PT Novanindro International.

Netizen yang diketahui merupakan Direktur PT Novanindro International R.V. Andreyas S. Goeritno itu mengungkapkan, melalui surat Kredit Ekspor (KE) dengan nomor kontrak KTR/20-19/XI/2002/Set yang ditandatangani oleh Kepala Staf TNI Angkatan Laut (AL) Laksamana TNI Bernard Kent Sondakh, yang mewakili Menteri Pertahanan Juwono Sudarsono, Kementerian Pertahanan, membeli helikopter melalui perusahaan yang dipimpin ayahnya, Goeritno.

“Tanggal 14 September 2005, Lanudal (Pangkalan Udara Angkatan Laut) Juanda, menerima 1 (satu) unit helikopter Mi-2 dari PT Novanindro International, sebagai unit ke 3 (tiga) dari kontrak,” tulisnya, dalam kronologi singkat, yang diunggah di akun X pribadinya, dikutip Senin (15/1/2024).

Selain meminta bantuan Prabowo, dalam surat tersebut Andreyas juga meminta bantuan Presiden Joko Widodo untuk menyelesaikan masalah ini. Pasalnya, sampai saat ini, dirinya belum menerima sesen pun dari total tagihan sebesar US$1,5 juta atau sekitar Rp22,5 miliar (Kurs Rp15.500).

Sementara itu, sejak 2005 lalu PT Novanindro International telah berusaha untuk bertanya, menagih, dan berkoordinasi dengan Kementerian Pertahanan. Namun, tidak mendapat respon baik dari pihak terkait.

“Bapak Bernard Kent Sondakh yang memulai project ini tahun 2002 dan Bapak Riyamizard Ryacudu yang mengakhiri proyek ini tahun 2020. Saya sebagai penyedia yang membeli heli Mi-2 tersebut belum dibayar sampai sekarang sesen pun,” ujarnya.

Sementara itu, menurut Andreyas, pada mulanya perusahaan yang ditunjuk oleh Kementerian Pertahanan dalam pengadaan helikopter ini bukan PT Novanindro International, melainkan PT Cerianaga Pertiwi.

Namun, advance payment atau pembayaran di muka sebesar 15% dari nilai kontrak, yaitu sekitar US$1.68 juta, Direktur Penanggung Jawab PT Cerianaga Pertiwi Niko menghilang dan calon penyandang dana/lender Harmony Capital pun mengundurkam diri.

Pada saat yang sama, General Director Rostov Mill yang mewakili Mil Moscow Helicopter Plant JSC and EDB Rostov-Mil PLC Guennadi Zoebkov juga diganti oleh direktur baru, Ivan P. Shimko.

Dengan kondisi ini, Ivan pun telah menyampaikan berbagai masalah yang terjadi kepada Bernard Kent Sondakh.

“Laksamana Bernard Kent Sondakh tetap berkeinginan untuk melanjutkan/melaksanakan kotrak dan menunjuk Director General Ivan P. Shimko,” kata Andreyas.

Sebagai penanggungjawab, Ivan pun melanjutkan negosiasi kontrak dengan TNI AL dan menunjuk PT Novanindro International sebagai agen pengadaan yang baru pada November 2004.

Karena itulah, Goeritno, ayah Andreas, lantas mendatangkan satu unit helikopter Mi-2 pada September 2005.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *