Sabtu, 28 Mei 2022

Satu mobil Polantas hancur diamuk massa dalam demo penolakan Omnibus Law di Pekanbaru

Mobil polisi hancur
Satu unit mobil polisi lalu lintas hancur jadi sasaran emosi massa pendemo penolakan UU Cipta Kerja di Pekanbaru. (Foto: Cakaplah)

Pekanbaru (Riaunews.com) – Satu unit mobil patroli milik polisi lalu lintas hancur dan jadi sasaran amukan massa saat demo penolakan Omnibus Law di Pekanbaru yang berujung ricuh, Kamis (8/10/2020).

Setelah bentrok di depan gedung DPRD Riau, kericuhan merembet hingga ke bawah jembatan layang simpang jalan Imam Munandar.

Baca: Demo berujung ricuh, sejumlah mahasiswa Riau dievakuasi ke rumah sakit karena luka-luka

Satu unit mobil polantas yang sudah ditinggalkan petugas menjadi sasaran amukan massa. Mereka menggulingkan mobil tersebut dan memecahkan kacanya.

Tidak hanya itu, mobil yang sudah ditinggal petugas juga ditendang serta dipukul menggunakan kayu.

Dalam demo yang berakhir ricuh tersebut, sejumlah mahasiswa dan polisi sama-sama terkena lemparan batu. Beberapa mahasiswa berdarah karena luka di bagian kepala.

Pantauan merdeka.com di lokasi, unjuk rasa dimulai sejak pukul 13.30 WIB itu awalnya berlangsung damai. Namun saat mahasiswa berdatangan lebih banyak dan tidak mencapai kesepakatan dengan polisi dan DPRD Riau, kericuhan pun tak terelakkan.

Kerusuhan terjadi dua kali, awalnya sekitar pukul 15.15 WIB, lalu mahasiswa dan polisi beristirahat saat azan Asar berkumandang.

Baca: Demo penolakan Omnibus Law Cipta Kerja di Pekanbaru memanas, polisi tembakkan gas air mata

Kemudian usai salat Asar, Kapolresta Pekanbaru Kombes Nandang Mu’min Wijaya mondar-mandir bernegosiasi menghubungkan antara mahasiswa dengan pimpinan DPRD Riau.

Wakil Ketua DPRD Riau Hardianto dan Agung Nugroho kemudian mendatangi mahasiswa. Mereka sempat berdialog di kerumunan.

“Kami secara lembaga DPRD Riau wajib menampung aspirasi teman-teman mahasiswa. Ini akan kita sampaikan ke pemerintah pusat,” kata Hardianto melalui pengeras suara.

Lalu seorang orator mahasiswa yang juga menggunakan pengeras suara meminta DPRD Riau menolak Undang-Undang Cipta Kerja Omnibus Law.

“Kami minta DPRD Riau juga menolak Omnibus Law seperti kami,” teriak mahasiswa tersebut.

Namun, Hardianto tidak dapat mengabulkan permintaan mahasiswa dengan alasan pihaknya hanya menampung aspirasi dan tidak bisa memutuskan saat itu juga.

Baca: Dituntut tolak Omnibus Law, Pimpinan DPRD Riau: Ini domainnya DPR RI

“Nanti akan kami sampaikan ke pemerintah pusat,” jawab Hardianto.

Dialog tersebut tidak mencapai kesepakatan. Mahasiswa berteriak-teriak dan menolak kesepakatan tersebut.

Para pimpinan DPRD Riau itu akhirnya masuk ke dalam gedung. Tiba-tiba mahasiswa pun melempari kerumunan tersebut lantaran terdengar mereka disuruh pulang dari pengeras suara. Akhirnya, kericuhan kembali terjadi sekitar pukul 16.00 WIB.

Polisi menembakkan gas air mata, kemudian dibalas lemparan batu serta botol minuman mineral dari kerumunan mahasiswa.

“Ada yang luka, berdarah,” kata salah seorang mahasiswa.***

Tinggalkan Balasan