Senin, 15 Juli 2024

Tampil di ILC, Rizal Ramli: Sebelum corona, ekonomi RI sudah bermasalah

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli.

Jakarta (Riaunews.com) – Ekonom senior Rizal Ramli menyebut kalau masalah ekonomi Tanah Air sudah bermasalah sebelum wabah virus corona (Covid-19) terjadi. Hal ini diketahui dari kajian yang dia lakukan.

“Sebelum ada corona ekonomi (kita) sudah masalah. Tahun 2017, 2018, 2019,” kata dia yang menjadi salah satu narasumber dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) tvOne bertajuk ‘Corona: Setelah Wabah, Krisis Mengancam?’, Selasa (21/4/2020) malam.

Bahkan, berdasar hasil wawancara dengan beberapa pihak yang pernah mengalami krisis tahun 1998, apa yang terjadi saat wabah virus corona ini dirasa lebih parah. Menurut Rizal, pemerintah menutupinya seoalah-olah baik-baik saja karena melakukan pinjaman. Padahal akibatnya utang Indonesia jadi makin parah.

“(Saya tanya kata mereka tahun 1998) Kita tutup buka lagi tapi enggak hancur kaya gini. Tapi, seolah-olah ada stability didoping pinjaman dengan bunga yang banyak. Seolah-olah ada kesan semua oke. Tapi utang luar negeri besar sekali,” katanya.

Menurut mantan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman ini, pemerintah sesumbar karena mengklaim corona belum masuk ke Tanah Air pada Januari. Bukannya mempersiapkan amunisi untuk mencegah corona, pemerintah disebutnya malah asik sibuk saling bantah. Padahal ada penelitian yang dilakukan Fakultas Kedokteran di Tanah Air kalau corona sudah masuk Indonesia saat itu.

“Kehilangan dua setengah bulan berharga (untuk) bantah-bantahan (corona sudah masuk atau belum). Pejabat kita paling doyan yang bener dibantah,” katanya lagi.

Pria yang ngetop dengan inisial RR ini menilai opsi mencetak uang untuk membantu APBN saat pandemi corona ini memang bisa dilakukan. Namun dengan catatan pemerintah harus kredibel dan tidak melakukan Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

“Printing money (cetak uang) saat pemerintah tidak kredibel, banyak KKN, abuse of power (penyalahgunaan kekuasaan) itu printing money bisa bahaya sekali. Itu bisa inflasi, rupiah bisa anjlok 20 ribu (per dolar AS). Kecuali pemerintah saat ini kredibel,” katanya dengan nada berapi-api.

Dia menilai, cara memompa ekonomi secara makro itu hasilnya tidak akan lama. Dia mengibaratkan, wabah pandemi corona itu sebagai samurai raksasa yang jatuh dari langit.

“Tangan kita bleeding, kasarnya Indonesia enggak kaya-kaya amat. Samurai jatuh dulu ke tanah, baru kita (bisa) lakukan sesuatu. Kita tidak cukup kuat lakukan makro pumping, hasilnya cuma beberapa hari doang,” kata dia.

Menurutnya, lebih baik fokus menyelesaikan masalah corona dengan lebih baik terlebih. Sebab, cara mengatasi krisis lewat kebijakan makro itu harus dilakukan ketika pemerintah baik.

“Jangan sok makro pumping, BI sudah support Rp300 T lebih, spekulator sudah beli, jangan sok jago. Jangan lakukan makro pumping, bereskan kasus corona, otomatis akan lebih baik,” ujarnya.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *