Kamis, 18 Juli 2024

Usai Banjir Kecaman soal Keistimewaan Yogyakarta, Ade Armando Akhirnya Minta Maaf

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Politikus PSI Ade Armando minta maaf setelah menuai kecaman atas komentarnya mengenai Daerah Istimewa Yogyakarta.

Jakarta (Riaunews.com) – Politikus Partai Solidaritas Indonesia (PSI), Ade Armando akhirnya minta maaf setelah pernyataan sebelumnya yang menyebut Yogyakarta sebagai simbol politik dinasti yang sebenarnya.

Permintaan maaf ini disampaikan setelah pernyataan Ade Armando soal Yogyakarta itu mendapat kecaman yang massif dari publik karena dianggap tidak paham sejarah Daerah Istimewa Yogyakarta.

“Melalui video ini saya ingin mengajukan permohanan maaf sebesar-besarnya seandainya video saya yang terakhir tentang politik dinasti telah menimbulkan ketersinggungan dan kegaduhan terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta,” kata Ade Armando melalui video yang diunggah di akun X-nya seperti rilpolitik.com kutip hari ini, Senin (4/12/2023).

“Saya sudah mendengar akan ada aksi tangkap Ade Armando dan rencana untuk mendatangi PSI Jogjakarta,” lanjut dia.

Ade Armando mengaku pernyataannya soal dinasti Yogyakarta itu sebagai pendapat pribadi dan tidak ada kaitannya dengan sikap PSI.

“Saya harus clearkan, apa yang saya sampaikan di video tersebut sepenuhnya adalah pandangan saya, sikap politik saya. Ini tidak ada hubungannya dengan pandangan politik, sikap politik maupun policy dari DPP PSI dan DPW PSI Jogjakarta. Itu sepenuhnya pandangan saya,” jelas dia.

Pria yang pernah digebukin massa demonstrasi pada April 2022 itu mengatakan, permintaan maaf itu disampaikan atas dorongan DPP PSI.

“Karena itu mengikuti arahan DPP PSI, saya mengajukan permohonan maaf sebesar-besarnya pada segenap pihak bila ternyata video tersebut telah menimbulkan ketersinggungan dan kegaduhan,” tukasnya.

Sebelumnya Ade Armando mengkritik aksi BEM UI, UGM, dan sejumlah BEM lainnya di Yogyakrta yang mengkritik praktik politik dinasti menjelang Pilpres 2024. Menurut Ade, aksi tersebut sangat ironis.

“Ini ironis sekali, karena mereka justru sedang berada di sebuah wilayah yang jelas-jelas menjalankan politik dinasti dan mereka diam saja,” kata dia pada Sabtu (2/12/2023).

“Anak-anak BEM ini harus tahu dong, kalau mau melawan politik dinasti, ya politik dinasti sesungguhnya adalah DIY. Gubernurnya tidak dipilih melalui pemilu,” imbuhnya.

Lebih lanjut, kata Ade, Gubernur Yogyakarta saat ini adalah Sultan Hamengkubuwono X yang tidak dipilih melalui pemilu melainkan karena garis keturunan.

Ade mempertanyakan alasan mahasiswa diam terkait praktik politik dinasti di Yogyakarta. Padahal menurut dia, hal itu jelas-jelas bertentangan dengan konstitusi.

Pernyataan tersebut langsung menuai kecaman dari publik. Mereka menilai Ade tidak paham sejarah peran Yogyakarta untuk Indonesia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *