Jumat, 12 Juli 2024

WHO Nyatakan Tak Ada Lagi Rumah Sakit di Gaza Utara

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 
Kehancuran Kota Gaza akibat serangan membabi-buta Israel. (Foto: Anadolu)

Jenewa (Riaunews.com) Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis (21/12/2023) mengatakan bahwa Gaza utara tidak lagi memiliki rumah sakit yang berfungsi, karena kurangnya sumber daya di tengah serangan Israel masih terjadi.

“Tidak ada rumah sakit fungsional yang tersisa di utara. Al-Ahli adalah rumah sakit terakhir tetapi sekarang tidak berfungsi maksimal dan masih merawat pasien tetapi tidak menerima pasien baru, bersama dengan rumah sakit Al-Shifa, Al-Awda dan Al-Sahaba. Rumah sakit-rumah sakit ini masih melindungi ribuan pengungsi,” jelas Richard Peeperkorn, perwakilan WHO di wilayah pendudukan Palestina, dalam konferensi pers di Jenewa, seperti dilansir Anadolu, Kamis (21/12).

Peeperkorn mengatakan, tidak ada rumah sakit berarti bahwa hanya sembilan dari 36 fasilitas kesehatan yang berfungsi sebagian di seluruh Jalur Gaza, di mana semuanya berada di wilayah selatan.

“Sekarang, Al-Ahli adalah sebuah rumah sakit,” katanya, seraya menambahkan bahwa itu adalah satu-satunya rumah sakit di mana orang yang terluka bisa mendapat penanganan operasi di Gaza utara hingga dua hari yang lalu.

“Tetapi ruang operasi sudah tidak ada lagi karena kekurangan bahan bakar, listrik, pasokan medis dan tenaga kesehatan, termasuk dokter bedah dan dokter spesialis lainnya,” ujarnya.

“Rumah sakit tersebut sudah tidak berfungsi sama sekali dan saat ini hanya berfungsi sebagai rumah perawatan, tanpa atau sangat sedikit layanan perawatan yang disediakan,” tambah Peeperkorn.

Dia menuturkan bahwa Rumah Sakit Al-Ahli berada dalam kekacauan total, penuh sesak dan merupakan zona bencana. Peeperkorn mengungkapkan, lebih dari 20 staf rumah sakit Al Ahli ditangkap pada Senin (18/12), di mana enam orang di antaranya telah dibebaskan dan terpaksa pindah ke selatan.

Namun, kata dia, tidak ada informasi mengenai mereka yang masih ditahan. Dia mendesak semua pihak yang berkonflik untuk menghormati hukum kemanusiaan internasional dan melindungi pekerja kesehatan, pasien, fasilitas kesehatan, dan ambulans setiap saat.

Tingkat okupansi rumah sakit mencapai 206% di Selatan

Peeperkorn menekankan bahwa dua rumah sakit besar di Gaza selatan beroperasi dengan kapasitas tiga kali lipat dari kapasitas tempat tidur mereka.

Sementara itu, terang dia, tingkat hunian secara keseluruhan kini mencapai 206% di bagian rawat inap dan 250% di ICU, selain menyediakan tempat berlindung bagi ribuan pengungsi internal.

Menurut perwakilan WHO itu, lebih dari 1,9 juta, atau 85% populasi, diperkirakan menjadi pengungsi, setengahnya adalah anak-anak. Lebih dari 1,4 juta dari mereka berlindung di fasilitas UNRWA dan tempat-tempat umum lainnya, termasuk rumah sakit.

Peeperkorn mengatakan 136 staf UNRWA telah terbunuh sejak dimulainya peperangan.

Mengenai serangan terhadap layanan kesehatan, ia mengatakan hingga Rabu (20/12), 246 serangan terjadi di Gaza, yang mengakibatkan 582 korban jiwa dan 748 luka-luka. Serangan tersebut, ujar dia, telah mempengaruhi 61 fasilitas layanan kesehatan dan 76 ambulans.

Israel telah menggempur Jalur Gaza sejak serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, di mana agresi Negeri Zionis itu menurut otoritas kesehatan Gaza, telah menewaskan hampir 20.000 warga Palestina, yang sebagian besar perempuan dan anak-anak, dan melukai 52.586 lainnya.

Serangan gencar Israel telah menyebabkan kehancuran di Gaza dengan setengah dari persediaan perumahan di wilayah pesisir rusak atau hancur, dan hampir 2 juta orang mengungsi di daerah kantong padat penduduk tersebut di tengah kekurangan makanan dan air bersih.

Di sisi lain, hampir 1.200 warga Israel diyakini tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober lalu, sementara hampir 130 sandera masih disandera.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *