Washington (Riaunews.com) – SpaceX memenangkan kontrak NASA senilai US$2,89 miliar untuk membangun pesawat ruang angkasa. Pesawat ini akan mendaratkan astronot di bulan untuk pertama kalinya setelah lima dekade.
Pesawat yang diberi nama Starship ini juga merupakan wujud ambisi Elon Musk, CEO SpaceX, untuk mendaratkan manusia di Mars.
Sejauh ini, seluruh penerbangan prototipe Starship berakhir dengan ledakan. Namun, perusahaan mengklaim mampu membangun kendaraan uji baru dengan cepat.
Lisa Watson-Morgan, Manajer Sistem Pendaratan Manusia atau program HLS NASA, mengatakan NASA akan terus memberikan pengawasan ketat saat SpaceX melanjutkan pengembangannya.
SpaceX juga akan diminta untuk melakukan misi demonstrasi mendaratkan Starship tanpa awak di bulan sebelum mendaratkan astronot.
“(Juga) memastikan bahwa sistem ini akan aman bagi astronot kami,” kata Watson-Morgan seperti dikutip dari CNN.com, Ahad (18/4/2021).
Tahun lalu NASA mengumumkan tiga kontrak berbeda untuk pengembangan pendaratan di bulan pada SpaceX dan ‘National Team’ dari Blue Origin.
Harapannya, kedua perusahaan ini akan bekerja membangun kendaraan operasional sehingga membuahkan hasil yang bersaing dalam harga dan teknologi.
Watson-Morgan mengatakan NASA telah mendukung tiap mitra, memberikan analisis untuk mendukung desain, staf ahli, termasuk pengujian selama fase pengembangan.
Pengumuman kontrak SpaceX jadi pukulan buat Blue Origin, perusahaan roket yang didirikan Jeff Bezos, ‘National Team’ ini diketahui mengusulkan kerja sama dengan perusahaan besar seperti Northrop Grumman dan Lockheed Martin untuk merancang dan membangun pendaratan di bulan.
Namun, SpaceX yang memenangkan kontrak dengan tawaran untuk menggunakan pesawat ruang angkasa yang sudah dikembangkan sendiri oleh perusahaan di Texas Selatan.***
Eksplorasi konten lain dari Riaunews
Berlangganan untuk dapatkan pos terbaru lewat email.