Bisnis  

Stafsus Erick Thohir: Pilot Garuda Indonesia Bakal Dibayar per Jam

Demi efisiensi, pilot Garuda Indonesia bakal digaji perjam.

Jakarta (Riaunews.com) – Staf Khusus Menteri BUMN Arya Sinulingga mengatakan skema pembayaran pilot PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk bisa diubah menjadi per jam demi efisiensi ongkos operasional perusahaan. Hal ini memungkinkan seiring dengan berkurangnya jenis pesawat yang akan diterbangkan maskapai tersebut.

“Pesawatnya, ini kan ratusan, kita akan coba potong mungkin tinggal 70 yang cukup penerbangannya. Nanti sampai akhir, mungkin, pilotnya pun jam-jaman saja kalau bisa,” ujarnya dalam diskusi bertajuk BUMN, Apa Masalah dan Solusinya, Kamis (10/6/2021).

[box type=”shadow” align=”” class=”” width=””]

Baca Juga:

[/box]

Menurut Arya, jumlah dan jenis pesawat Garuda Indonesia yang terlampau banyak membebani keuangan perusahaan. Pasalnya kondisi tersebut membuat jumlah pilot yang harus menerbangkannya pun banyak dan memiliki kemampuan khusus.

Belum lagi, masalah biaya perawatan yang tinggi kendati pesawat dikandangkan selama masa pandemi.

“Garuda ini menyewa pesawat beragam brand dan beragam jenis. Airbus banyak banget jenisnya. Berikutnya? Dia sewa lagi Bombardier, dia sewa lagi ATR, itu saja sudah membuat biaya maintenance mahal bukan main, belum lagi kepada pilot-pilot dan sebagainya,” tuturnya.

Ia membandingkan dengan maskapai lain seperti AirAsia dan Lion Air yang jenis pesawatnya lebih sedikit dan berhasil menekan biaya operasional.

“Dengan berbagai jenis brand akan membuat keahlian pilot berbeda-beda, ini juga yang membuat harganya makin mahal, coba lihat sebelah, contoh AirAsia saja, mereka rata-rata Airbus saja, atau misalnya Lion lah. Enggak usah jauh-jauh, Lion Air juga ya Boeing saja,” jelasnya.

Seperti diketahui, sebelumnya Garuda Indonesia dikabarkan akan memangkas jumlah armada pesawat mereka dari sekitar 142 pesawat menjadi 70 pesawat.

Hal ini terjadi karena bisnis perusahaan tertekan dampak pandemi covid-19 dan tumpukan utang Rp70 triliun. Kabar ini muncul ke publik saat rekaman pidato Direktur Utama Garuda Indonesia Irfan Setiaputra kepada jajaran karyawan bocor ke Bloomberg.

Dalam rekaman tersebut, Irfan menyatakan perusahaan perlu merestrukturisasi bisnis secara penuh dengan pengurangan armada.

“Kami harus melalui restrukturisasi yang komprehensif. Kami memiliki 142 pesawat dan perhitungan awal kami tentang bagaimana kami melihat pemulihan ini telah berjalan, kami akan beroperasi dengan jumlah pesawat tidak lebih dari 70,” ujar Irfan, seperti dikutip dari Bloomberg akhir Mei lalu.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *