Selasa, 23 Juli 2024

Di Balik Topi Pandan

Ikuti Riaunews.com di Google Berita
 

Oleh Helfizon Assyafei

Pidato-pidato resmi biasanya mirip kampanye. Tentang betapa hebat pencapaian atau baik atau pedulinya si yang berpidato. Yang ingin mensejahterakan warga yang dipidatoi. Apalagi pidato orang yang merasa penting. Sering masuk media massa karena tak ada lagi yang menarik hendak diberitakan.

Misalnya; ketua kelas bilang pandemi ini sudah terkendali. Besoknya berita bilang; kasus covid tembus 1 juta orang. Itu sebabnya orang biasa macam saya ini kurang suka (aslinya tidak suka) mendengar pidato.

Antara yang dipidatoi dengan kenyataan sering nggak sama. Jadi ya begitulah. Pidato berkata, ekonomi akan meroket. Ini-itu terkendali dan bla..bla. Itu mungkin karena yang berpidato belum pernah merasakan deg-degannya di akhir bulan karena kekurangan fulus.

Kalau perut kenyang emang enak pidato ini-itu. Apalagi  dengan stelan jas dan rambut tersisir rapi plus parfum semerbak mewangi.

Jadi saya lebih percaya kenyataan daripada pidato. Dulu diam-diam sering saya amati seorang bapak penjual buah dengan sepeda bututnya. Setiap tengah hari jam istirahat kerja saya sering melihat si bapak menyandar ke sebuah dinding ruko yang menjulang tinggi sembari menikmati rokoknya. Ia beristirahat sejenak. Saya kan mampir sekedar membeli buahnya sembari mengajaknya ngobrol.

“Kadang sampai sore bang hanya enam atau paling banyak sepuluh saja yang laku,” curhatnya kala itu. Saya tertegun. 10 x 2000 = 20.000 jual belinya dari pagi sampai sore? Kasihan..Ini hanya percikan kecil dari ribuan bahkan jutaan kisah orang-orang sepertinya.

Saya teringat mantan menteri sosial yang tega mengembat dana Bansos. Keparat.., rutuk saya dalam hati. Dasar Madam (maling dana masyarakat).

Ketika pandemi tak kunjung usai beberapa waktu kemudian saya tak pernah bertemu bapak penjual buah itu lagi. Meski saya berusaha pergi ke dinding ruko tempat ia biasa menyandar. Saya merasa kehilangan.

Sampai suatu ketika.. saya melihat senyum khasnya di bawah topi pandan di tengah jalan yang terik oleh matahari. Tak ada lagi sepeda butut dengan kotak kaca berisi buah di belakangnya.

Ia telah jadi peminta-minta atas nama sebuah rumah ibadah yang tengah dibangun.

Saya tahu itu pilihan terpaksa yang dilakoninya. Sebab dari kerjaan itu ia bisa dapat upah lebih dari hasil jual buahnya satu hari dimasa pandemi ini.

Hati saya sedih. Saya tak bisa menyalahkan dia.

Kalau saya jadi dia mungkin juga begitu.

Siapa yang peduli? Tukang pidato?

Mereka hanya peduli pada perutnya sendiri.***

Pekanbaru, 28 Januari 2021

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *