
Oleh Helfizon Assyafei
Diam mungkin membuat kita aman. Tapi diam tidak akan mengubah apapun meskipun hal yang termudah sekalipun. Begitu kata orang bijak. Menulis itu sebenarnya melawan diam. Tepatnya lagi melawan dalam diam. Melawan apa? Melawan ketidakadilan, kecurangan, kepalsuan, pemaksaan pendapat misalnya. Saya sedikit yakin bahwa menulis boleh jadi memiliki kedudukan sejajar dengan perbuatan-perbuatan baik yang lain, atau bahkan dengan ibadah—jika pakai term agama.
Saya mencintai menulis dan sudah bertahun-tahun mencoba untuk selalu setia. Tapi, kadang saya menemukan alasan untuk tidak menulis. Sebuah dalih untuk orang yang kadang kehilangan ide ketika tiba waktunya harus menulis. Seperti kata kolomnis Mahfud Ikhwan, dalih itu muncul karena dua alasan. 1) menulis itu perbuatan baik. 2) menulis itu berat.
Perbuatan baik selalu ada setan yang menggoda agar tidak melakukannya. Itulah kenapa—katakanlah seperti salat tepat waktu, puasa sebulan penuh di bulan Ramadan, bersedekah, membayar zakat, dll.—menulis selalu menghadapi godaan begitu ia hendak ditunaikan. Lalu, kenapa menulis itu berat? Karena tak ada kebaikan yang bisa dilakukan dengan gampang.
Menulis bagi saya adalah coba memotret realita versi saya. Anda boleh setuju dan juga tidak setuju. Berbeda cara dan sudut pandang itu biasa. Istilah anak mudanya ‘B’ aja lagi. Dan pengalaman mengajarkan saya bahwa saya perlu pangkalan utama (home base) baru dalam menulis. Meski punya laman pribadi saya harus berfikir agar bisa dijangkau orang banyak. Dan media berita online umum adalah tempat yang menurut saya cocok untuk berbagi.
Dan tawaran itu datang. Bahkan diberi kolom khusus. Bukan’kolam’ khusus ya ha ha ha. Lalu apa yang akan saya isi di kolom khusus ini? Temanya bebas saja. Bisa politik, ekonomi, budaya, sosial, keagamaan dan pengalaman menarik misalnya. Kadang yang saya tulis di efbi saya share di sini. Atau yang saya tulis di sini saya share ke efbi. Tapi tentu ada momen yang memerlukan tulisan panjang dan kaya data misalnya tentu tak menarik ditulis di efbi. Maka di kolom inilah tempatnya.
Dengan adanya home base baru ini setidaknya saya tidak harus menyensor diri saat harus menulis HRS misalnya yang kalau di efbi bisa dianggap melanggar standar komunitas. Atau mengatakan hal-hal yang benar walaupun pahit. Demokrasi sebenarnya memberi ruang kita berbeda pendapat. Berbeda sudut pandang. Dan perbedaan itu bukanlah permusuhan.
Saya ingin konsisten bisa menulis di kolom ini semampu yang saya bisa. Meski saya tahu apa yang saya bagikan mungkin tidak selalu menarik. Tapi ini upaya memelihara tradisi menulis. Dan saya harus berterimakasih pada sahabat saya yang telah memberi ruang ini pada saya. Semoga jadi amal kebaikan yang kan terus mengalir bila ada ilmu bermanfaat yang bisa didapatkan dari membaca kolom ini.
Saya juga berterimakasih pada semua pembaca. Bagaimanapun kehadiran kalian lewat like, share, komen atau meski hanya klik saja jelas jadi motivasi tersendiri bagi setiap penulis untuk berkarya lebih baik lagi. Jika kita tak mampu mengubah kemungkaran lewat tangan lakukanlah lewat tulisan. Jika tidak bisa juga bantulah tulisan itu dengan cara apapun agar sampai pada orang banyak. Seperti slogan rumah makan; jika baik beritahu yang lain. Jika jelek beritahukan pada kami saja. Oke gaes thanks untuk kalian semua..
Pekanbaru, 20 Desember 2020