Oleh Helfizon Assyafei
Pria itu seorang petugas kerohanian di sebuah rumah sakit di Jakarta. Sudah puluhan tahun bertugas. Memberi motivasi pasien agar sembuh. Selain itu juga membimbing pasien yang menghadapi akhir hidupnya dengan ucapan yang baik La ilaha Ilallah. Dalam sebuah majlis ia bercerita pada kami.
Dari tiap seratus orang pasien muslim yang ia bimbing di akhir hayatnya paling hanya satu-dua yang mampu mengucap kalimah toyibah itu. Banyak yang tak bisa. Kadang bahkan meracau. Ia sedih. Dan mendatangi seorang tuan guru. Dari sanalah ia kemudian tahu ucapan kesaksian (syahadat) dengan kesaksian yang sebenarnya di hati itu beda.
“Rukun kesaksian itu adalah keyakinan di hati,” ujarnya. Sebab kesaksian itu bukan sekadar ucapan. Ucapan hanya mengumumkan bahwa kita yakin pada orang sekitar kita. Sedangkan keyakinan adalah tanda hati kita jujur mengakui DIA lah Tuhan dan siap taat pada-Nya. Kesaksian tanpa keyakinan adalah keraguan. Jika lidah kita bersaksi, lanjutnya, maka bukti kesaksian itu adalah amal anggota tubuh.
Baca: Belajar dari Kejadian
Ia melanjutkan cerita gurunya itu kepada kami. “Jadi kenapa banyak yang sulit mengucap di akhir hayat karena pertama, di dalam hati kita bisa jadi bukan Allah, Tuhan yang sebenarnya. Bisa saja yang kita tuhankan adalah kekayaan, kekuasaan, karir, emas, perak dan apa saja yang bukan Allah,” ujarnya.
Tuhan, lanjutnya, adalah sesuatu yang paling kita anggap penting di hati. “Jika bukan DIA yang terpenting di hati kita niscaya kita takkan mampu menyebut-Nya di akhir hayat,” ujarnya.
Kedua, kita tidak sadar siapa teman kita ‘yang tidak tampak’ yang selalu mengiringi kita. “Malaikatkah atau syetan,” ujarnya. “Barangsiapa yang berpaling dari pengajaran Tuhan Yang Maha Pemurah (Alquran), kami adakan baginya syaitan (yang menyesatkan) maka syaitan itulah menjadi teman yang selalu menyertainya.”(QS Azzukhruf: 36).
Salah satu bahayanya berteman syetan adalah, kita tidak tahu bahwa kita tidak tahu. Kita tidak tahu bahwa kita telah salah jalan (sesat). “Dan sesungguhnya syaitan-syaitan itu benar-benar menghalangi mereka dari jalan yang benar dan mereka menyangka mereka dapat petunjuk.”(QS. Azzukhruf:37). I
Seytan membuat kita merasa telah jadi orang baik. Orang yang suci. Orang yang dapat petunjuk. Orang yang paling tahu. Paling benar. Orang yang sudah banyak amal sehingga lepas Ramadhan kembali enteng berbuat dosa. Merasa aman dari dosa-dosa. Dan gemar melakukan yang haram tanpa rasa salah.
Baca: Ketika Benci jadi “Proyek” Bersama
“Maka syaitan itu adalah sejahat-jahat teman (yang menyertai manusia).” (QS Azzukhruf: 38). Kami semua tertegun. Berdiri juga bulu roma mendengarnya. Ternyata selalu ada yang mengikuti kita tanpa kita sadari. Membisiki hati kita ke arah kebaikan (malaikat) atau keburukan (syetan).
Juga harus mencek lagi hati kita sebenarnya apa dan siapa yang terpenting ada di sana. Jika salah memposisikan yang terpenting di hati maka tak mudah mengucap kesaksian itu disaat yang paling menentukan: di akhir perjalanan hidup.
“Masya Allah, terimakasih sahabat,” ujar kami menyalaminya di akhir majelis itu.***
Penulis merupakan wartawan senior Riau
Artikel ini sudah dipublikasi di akun resmi penulis di Facebook @helfizon.assyafei.9